Sabtu, 28 April 2012

LAJANG


LAJANG

            Di balkon apartemennya yang mewah, Rano menghirup udara pagi kota Jakarta yang masih terasa lumayan segar. Sesekali Rano terlihat menyeruput lattenya. Wajah Rano begitu cerah, karena tidak ada lagi mamanya yang selalu bawel menyuruhnya untuk segera menikah. Memang begitu enaknya hidup melajang dan tinggal sendiri di apartemen.
            Sepertinya Rano terlalu asyik dengan kopi susunya, sampai-sampai dia tidak sadar ada seseorang yang sudah memasuki apartemennya.
            “Good morning, my gorgeous!”
            Rano menengok ke belakang, dia sudah tidak asing lagi dengan panggilan itu.
            “Susan?”
            “Surprising, right?”
            Rano lalu menghampiri Susan dan memeluknya. Wajah Susan terlihat sangat cerah dalam pelukan Rano.
            “Oh God, I miss you a lot, miss you hugging me like now. I’m so happy coming here…”
            “Really?” Tanya Rano menggoda Susan, pura-pura tidak percaya kalau Susan sangat merindukannya.
            “I’m not a liar, like you, haha…” Susan tertawa, lalu melepaskan diri dari pelukan teman semasa kecilnya itu. Dia berjalan menuju sofa di ruang tengah. Rano menyusulnya
            Susan duduk di sofa dan memangku tasnya. Dia terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
            “Apa itu?” Tanya Rano penasaran, saat melihat apa yang diambil Susan dari dalam tas.
            “Ini titipan mama kamu, kering kentang favorit kamu, Rano.” Jawab Susan sembari meletakkan setoples kecil kering kentang di atas meja.
            Rano mengangguk-angguk, “Thanks yah.”
            “You’re welcome.”
            “Kenapa kamu nggak kasih kabar kalau udah pulang dari Inggris?”
            “Aku pengen kasih kamu surprise, tapi kayaknya kamu biasa aja ketemu aku lagi. Kamu nggak kangen sama aku kan?” Tatapan Susan sedikit kesal, wajahnya cemberut.
            “Hei, aku pasti kangen kamu lah. Kita udah 2 tahun nggak ketemu. Kamu ngomong apa sih.” Rano menjawab sambil mengacak-acak poni Susan, seperti yang dulu sering dia lakukan waktu kecil.
            Susan lalu tersenyum mendengar jawaban Rano dan membenarkan lagi letak poninya. Dia rindu sekali saat Rano mengacak-acak poninya seperti dulu.
            “O iya, kamu ngapain sih pindah ke Jakarta dan tinggal di apartemen? Di Bandung juga banyak kerjaan yang bagus kan?”
            “Aku pengen sesuatu yang baru, Bunny…”
            Kamu bohong, Rano. Aku tahu betul alasan kamu pindah ke Jakarta.”
            “Udahlah Bunny, kamu jangan seperti mama yang bawel dan selalu nyuruh aku buat cepat-cepat nikah. Aku nggak ngerti kenapa semua laki-laki harus menikah dan berakhir menjadi seorang suami? Aku ingin lepas dari paradigma itu. Aku ingin hidup sukses dan independen, Bunny… Kamu ngerti kan apa yang aku maksud?”
            “Rano, kamu udah sukses. Kamu mau apa lagi?”
            Rano tidak menjawab pertanyaan dari Susan. Rano terlihat bingung. Susan benar, apa lagi yang dia inginkan. Dia sudah punya segalanya, tapi dia masih mencari sesuatu, dan dia tidak tahu sesuatu apa yang sedang dia cari itu.
            “My gorgeous, listen to me… Hidup kamu seperti nggak ada tujuan, dan aku bisa lihat jelas itu. Kamu masih menginginkan sesuatu, tapi kamu nggak tahu apa yang kamu inginkan. Kamu ingin terus-terusan seperti ini?”
            Rano mendengus, Susan benar-benar menangkap mimik wajahnya yang bingung.
            “Kamu tahu apa mimpi besar aku?”
            Rano menggelengkan kepalanya, dan menatap Susan dengan sangat serius.
            “Mimpi terbesar aku dalam hidup ini adalah menjadi seorang ibu rumah tangga, tinggal di rumah, mengurus anak-anak, dan mencium suamiku saat aku bangun di pagi hari.
            Rano tercengang mendengar jawaban Susan. Dia memang tumbuh besar bersama Susan sejak kecil, tapi dia baru mendengar yang satu ini, “Sounds nice, kamu jauh-jauh belajar S2 ke Eropa hanya untuk menjadi ibu rumah tangga?”
            “Itu tujuan hidupku Rano.” Ucap Susan dengan tersenyum.
            Rano terdiam, dan merasakan arti yang mendalam dari kata-kata Susan…

***
            Malam hari di Plaza Indonesia, Susan termangu sendirian ditemani secangkir cappucino.  Berulang kali Susan melihat jam tangan. Sesekali dia menghirup cappucinonya. Menunggu memang hal yang paling menjemukan. Namun, bila yang ditunggu adalah orang terkasih, hal itu tidak akan jadi masalah.
            Sembari mengusir rasa bosan, Susan menyalakan mp3 di ponselnya dan memasang headset di telinga. Terkadang Susan terlihat menengok ke arah pintu masuk. Namun, orang yang dia tunggu tidak muncul-muncul juga. Susan menarik nafas panjang, dan bernyanyi-nyanyi lirih untuk menghibur dirinya sendiri.
            Lama-lama Susan lelah, dia menengok lagi ke pintu masuk, tapi malah pria-pria setengah baya yang melempar senyum genit padanya. Susan yang merasa jijik langsung nyengir dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
            Susan mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya. Susan berteriak dalam hatinnya.
            RANO, KAMU DIMANA???
***
            Susan beranjak dari Starbucks dengan langkah penuh emosi. Baru pertama kali ini dia membuat janji dengan Rano, setelah baru pulang dari London. Namun, Rano begitu cuek. Selama bertahun-tahun bersahabat dengan Rano, Susan tidak pernah dikecewakan. Rano selalu menepati janjinya.
            Apa mungkin Rano sudah berubah? Jauh-jauh dia pulang ke Bandung, hanya untuk menghampiri Rano di Jakarta. Susan berusaha memenuhi janjinya pada Mama Rano. Mama Rano ingin supaya Rano berubah pikiran untuk melajang dan segera menikah.
            Mengingat janjinya pada Mama Rano, langkah kaki susan semakin lesu. Dia begitu sulit menggapai hotel tempatnya menginap yang hanya tinggal beberapa langkah lagi. Susan terdiam lemah. Tiba-tiba dia terpikir untuk menghampiri Rano di apartemennya.
            “TAKSI!!!”
***
            Hantaman wedges Susan di lantai terdengar sedikit berisik. Dia berjalan menyusuri lorong apartemen dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar tidak sabar untuk segera memarahi Rano. Rano memang sangat menjengkelkan.
            Sesampainya di depan pintu kamar Rano, tiba-tiba jantung Susan berdegup kencang. Perasaannya sangat tidak enak. Dia sempat ragu untuk mengetuk pintu, dan rupanya Rano tidak mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu sudah sedikit terbuka, namun Susan belum beranjak satu langkah pun dari posisi awalnya. Kakinya terasa berat sekali.
            Jantungnya malah berdegup semakin kencang saja. Akhirnya Susan memasuki apartemen Rano dengan penuh keragu-raguan. Terdengar suara perempuan dari ruang tengah. Susan lemas. Dia berusaha terus melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, dan apa yang dilihat oleh Susan. Rano sedang bercumbu dengan seorang wanita di sofa.
            Susan tidak sanggup bergerak. Adegan itu terjadi di depan matanya. Rupanya mereka belum menyadari kehadiran Susan. Susan sangat sakit hati. Rano mengingkari janjinya untuk bercumbu dengan wanita lain. Susan mengelus-elus dadanya dan air mata mulai tumpah. Mengapa sahabat yang menemaninya tumbuh hingga dewasa sudah berubah?
            Bukan hanya itu, lalu bagaimana dengan rasa cintanya yang mulai tumbuh pada Rano? Rano malah tidak pernah menyadarinya.
            “Rano, kamu tega…” Satu kata meluncur dari Susan sebelum berlari keluar dari apartemen Rano. Rano terkejut dan mencampakkan wanita itu. Dia mengejar Susan hingga lobi apartemen.

***

            Udara malam berhembus dingin, dan malam semakin larut. Hanya kesunyian yang merapat di hati Susan. Susan terduduk lemah dan terisak di sebuah halte dekat apartemen Rano. Hatinya begitu perih. Dia baru merasakan luka sepedih ini seumur hidupnya. Baru saja pulang dari London, dia sudah disuguhi pengkhianatan dari sahabatnya sendiri.

                Dari jarak 100 meter, terlihat bayangan Rano. Terlukis penyesalan di wajah Rano. Namun, apa arti penyesalannya itu. Sedangkan Susan sudah terlanjur terluka.
            Perlahan-lahan, Rano menghampiri Susan. Susan masih menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia benar-benar tidak peduli dengan kedatangan Rano. Rano lalu langsung duduk disamping Susan.
            Rano mengelus pundak Susan… Tanpa basa-basi Susan langsung membuang tangan Rano. Kali ini Susan menatap wajah Rano. Tatapan Susan begitu tajam. Tatapan itu menyiratkan kebencian dan kekecewaan yang mendalam pada Rano.
            “Aku tahu, kenapa kamu nggak mau menikah. Itu karena kamu mau hidup bebas dan bercinta dengan banyak wanita tanpa komitmen kan?” Tuduh Susan pada Rano.
            “Bunny, aku nggak sehina itu!”
            “Lalu apa, Rano??”
            “Kita cuma teman.”
            “Oh ya? Jadi itu yang dilakukan sepasang pria dan wanita yang berteman??” Susan menyindir sambil menghapus sisa-sisa air matanya yang berceceran di pipi.
            “Ini Jakarta, Susan. Hal seperti ini sudah biasa. Kamu jangan berlebihan, jangan kekanak-kanakan.”
            “Kekanak-kanakan? Rano, aku tinggal di London selama 2 tahun dan berteman dengan banyak laki-laki, tapi aku nggak pernah melakukan hal-hal seperti itu.”
            Rano terdiam. Tatapan Susan membunuhnya, menghalangi kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
            “Sekarang aku nggak akan tanya tentang perempuan itu, aku nggak mau tahu siapa dia, aku nggak peduli, yang aku mau tahu kenapa kamu lupakan janji kamu? Aku menunggu kamu berjam-jam di Starbucks, Rano… Kamu dulu nggak pernah seperti ini. Kamu sekarang benar-benar lain…” Lanjut Susan.
            “Maafin aku, Susan… Aku benar-benar lupa.”
            Susan beranjak dari bangku halte dan berdiri, “Fine, Rano… Sepertinya sudah nggak ada alasan lagi buat aku untuk lebih lama lagi tinggal di Indonesia. Lebih baik aku kembali ke London.”
            Rano menarik tangan Susan.
            “Bunny, maafin aku…”
            “Kamu nggak pernah tahu, Rano. Kamu nggak ngerti perasaanku. Aku kembali kesini untuk kamu.”
            Rano tercengang, mencoba mengartikan jawaban Susan. Namun, Susan sudah terlanjur memasuki taksi yang dipesannya. Rano tertunduk lesu. Dia tidak pernah melihat Susan sesedih  itu seumur hidupnya. Dulu mungkin Susan akan menangis saat Rano merebut bonekanya. Namun, sekarang Susan menangis karena Rano tidak pernah menyadari perasaan cintanya…

***


Rano sahabatku,
Dulu aku tidak akan mengharapkan apapun darimu, kecuali kamu tetap disampingku. Tetap menjadi temanku, bermain bersamaku dan tertawa bersamaku. Namun sekarang sesuatu tumbuh dalam hatiku, ingin memilikimu…
Aku bukannya ingin menodai persahabatan kita, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan tumbuhnya perasaan ini. Makanya lebih baik aku pergi. Aku akan coba mengerti tujuan hidupmu, dan aku nggak mau memaksamu untuk menikahiku. Jika kamu sudah berubah pikiran suatu saat nanti, kamu bisa memilih wanita manapun yang kamu mau, bukan aku…
Maafkan aku, Rano…
Maafkan aku karena sudah mencintaimu…
-Susanna E. Shirazy-

Senin, 16 April 2012

Cerita Pendek - Arimbi yang Menangis


When you only love my body …

Aku seorang gadis berumur 20 tahun yang berbadan indah. Kulitku putih dan wajahku cantik. Aku keturunan Sunda-Jawa. Namaku Arimbi.
Tidak seperti tokoh pewayangan Dewi Arimbi yang kuat. Arimbi yang satu ini adalah gadis yang lemah. Dewi Arimbi adalah sosok yang bertarung sampai mati dalam Perang Bhatarayuda demi melindungi putranya, Gatotkaca. Aku tidak seperti Dewi Arimbi. Aku gadis yang cengeng. Aku tidak pernah kuat dalam menghadapi masalah apapun yang hadir dalam hidupku.
Jika Dewi Arimbi gugur dalam peperangan untuk membela putranya. Arimbi yang ini justru gugur dalam percintaan demi membela perasaannya sendiri.
Kata orang-orang yang melihatku, aku adalah gadis yang tegar. Mereka salah, aku sangat rapuh. Tapi aku selalu berusaha terlihat kuat di depan mereka.
Tidak ada yang salah dengan diriku dan hidupku. Semuanya normal, yang salah adalah cintaku. Jika cinta tidak pernah salah kenapa aku harus mencintai Mas Anang.
***
Malam ini aku menemani Mas Anang dinas ke luar kota. Aku memang sudah terbiasa pergi bersama Mas Anang hingga ke luar kota, bahkan sampai menginap. Suasana di jalan raya sangat ramai, meskipun sudah larut malam. Aku kedinginan di dalam mobil, karena Mas Anang menghidupkan AC mobilnya hingga paling pol. Aku terus saja bersandar di bahunya, Bahu Mas Anang yang hangat cukup menyelamatkanku.
“Mas, kapan kamu mau menepati janji kamu?” Tanyaku lirih pada Mas Anang yang sedang konsentrasi menyetir.
“Dek, jangan bahas itu dulu.”
“Kenapa mas? Rima salah bertanya seperti itu? Mas Anang sendiri kan yang sudah janji sama Rima.”
“Dek, maksud mas bukan seperti itu. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.”
“Terus kapan waktunya yang tepat mas? Rima lelah seperti ini terus.”
“Rima, dengarkan mas… Mas pasti akan segera menceraikan Syifa.”
“Mas, tolong … Jangan buat Rima lelah menunggu.”
“Iya Rima, mas janji. Mas akan cari waktu yang tepat. Mas akan menikahi kamu.”
Aku menatap dalam-dalam mata kekasih gelapku itu. Aku tidak tahu apakah dia sungguh-sungguh dengan ucapannya atau tidak.
***
            Musim sudah berganti dan aku masih saja menunggu kepastian. Entah apakah Mas Anang itu adalah laki-laki yang layak untuk ditunggu atau tidak. Aku sudah tidak peduli. Aku hanya peduli pada cintaku. Aku sudah terlanjur ‘kecemplung’ dalam cinta terlarang ini. Aku tidak mau sia-sia. Aku harus memperjuangkannya.
            Siang ini saja aku harus merengek pada Mas Anang supaya dia bisa menemaniku makan siang. Mas Anang hari ini sangat cuek padaku. Dia tidak menyapaku sama sekali. Tersenyum pun tidak. Padahal, dia yang biasanya selalu mencari-cari aku. Dia sering diam-diam menciumku, memelukku, bahkan kami tidak pernah sekalipun melewatkan makan siang bersama. Kali ini Mas Anang terlihat berbeda.
            “Mas, makan siang yuk.” Ajakku pada Mas Anang yang masih berkutat di depan monitor computer.
            “Dek, kamu makan siang sendiri saja. Mas lagi banyak kerjaan.” Ujar Mas Anang sedikit ketus. Bahkan dia tidak berani menatap mataku.
            “Mas, sibuk apa sih?” Aku menghampiri ke mejanya. Dia memang terlihat sedang mengutak-atik laporan keuangan di layar computer. Namun, aku bertanya-tanya dalam hati. Biasanya tidak seperti ini, bahkan dulu ketika deadline laporan tinggal beberapa jam saja dia masih bisa meluangkan waktu untuk makan siang denganku.
            “Lihat saja sendiri.” Jawab Mas Anang.
            “Hmm, biasanya sesibuk apapun juga masih bisa makan siang bareng.”
            “Dek, aku benar-benar sibuk! Apa kamu harus selalu makan siang sama mas!! Kamu kan bisa makan siang dulu sama yang lainnya!!”
            Mataku berkaca-kaca. Tatapan Mas Anang yang penuh kasih seperti biasanya tidak kulihat kali ini. Sorot matanya kali ini benar-benar penuh amarah. Aku hanya bertanya kenapa tiba-tiba dia menjadi sok sibuk dan tidak seperti biasanya, tapi dia malah membentakku.
            Aku langsung berlari keluar dari ruangannya, dan dia sama sekali tidak mengejarku. Aku tidak kuat lagi, aku menangis sedeas-derasnya di toilet. Di tempat itu tidak ada seorang pun yang akan melihatku. Seumur-umur aku tidak pernah dibentak seperti itu oleh Mas Anang …
***
            Sudah berhari-hari aku tidak bertegur sapa dengan Mas Anang. Sejak dia membentakku, aku merasa takut dengannya. Walaupun aku rindu dengannya. Perasaanku sangat janggal. Biasanya dia tidak betah bila tidak menelponku atau mengirimiku pesan singkat. Kali ini kami putus komunikasi, kecuali untuk urusan pekerjaan. Akhir-akhir ini sikapnya sangat dingin padaku. Aku tidak mengerti apa maksud Mas Anang tega bersikap seperti ini padaku.
            Sepulang dari kantor sore ini aku mendapat SMS dari Mas Anang. Ini SMS pertama yang dia kirimkan sejak kami tidak pernah bertegur sapa. Di SMS itu, Mas Anang mengajakku bertemu di pesisir pantai. Dia bilang ingin berbicara serius denganku.
            Hatiku diliputi berbagai pertanyaan. Apa yang sebenarnya akan Mas Anang sampaikan padaku? Apakah dia ingin melamarku di pinggir pantai saat sunset seperti di film-film? Aku tidak mau terlalu berharap. Aku membuyarkan lamunanku dan segera beranjak.
            Belum sempat mengganti baju kerjaku, aku langsung meluncur ke pantai dengan menggunakan motorku.
***
            Aku melihat sosok Mas Anang dari kejauhan. Mas Anang berdiri di tepi pantai sambil menatap senja yang kemerahan. Sorot matanya tajam sekali saat menangkap kedatanganku.
            Aku memepercepat langkah kakiku untuk menghampirinya. Sore ini Mas Anang terlihat berbeda. Saat berdiri disampingnya aku merasakan nafasnya yang begitu berat.
            “Mas, ada apa?” Tanyaku langsung pada Mas Anang. Aku tidak ingin berlama-lama dalam rasa penasaran.
            “Dek, sepertinya hubungan kita harus berakhir.”
            Aku merasa urat nadiku putus detik itu juga. Air mataku menetes begitu saja. Apa maksud Mas Anang? Dia yang sudah berjanji padaku. Apa dia sudah lupa dengan janji-janjinya?
            “Mas, maksud mas apa?” Tanyaku terbata-bata sambil mengontrol air mataku yang berhamburan.
            “Kamu jangan ganggu hidup aku lagi dek.”
            “Maksud mas, Rima selama ini cuma jadi pengganggu hidup mas, gitu?”
            “Dek, sekarang mas ingin lebih peduli sama keluarga mas, istri dan anak mas. Mas nggak bisa terus-terusan seperti ini bersama kamu dek.”
            “Apa? Nggak mungkin mas. Mas bilang mas udah nggak cinta lagi sama Syifa. Mas bilang mas akan menceraikan Syifa. Mas lupa sama janji-janji mas?”
            “Dek, dalam rumah tangga, cinta bukan lagi yang nomer satu. Yang paling penting adalah anak. Ini semua demi anak mas.”
            “Mas, lalu kenapa Mas Anang baru mengatakan semua itu sekarang? Kenapa mas? Kenapa nggak dari awal kita ketemu mas langsung ngomong seperti itu?”
            “Dek, udahlah! Dari awal kamu yang udah menggoda mas!”
            Hatiku bagai dihujam pisau dan disayat-sayat. Dia bilang aku ‘menggoda’. Apa dia tidak ingat bagaimana dulu dia mengejar-ngejar aku? Ternyata hanya sampai disitu dia menilaiku. Dia hanya menganggapku sebagai wanita penggoda. Sakitnya hatiku sudah sampai yang paling dalam. Aku tidak sanggup lagi berkata-kata. Air mataku tumpah ruah, membuatku sulit bicara.
            Aku lalu berlutut di hadapannya dan memeluk kedua kakinya. Aku memohon padanya, selagi masih bisa memohon, Baiklah, tidak apa-apa dia menyebutku sebagai wanita jalang, bahkan wanita murahan sekalipun. Aku tidak peduli dengan istri dan anaknya, Entah iblis mana yang meracuniku. Kali ini aku hanya peduli pada perasaanku yang sedang sakit ini.
            “Mas, Rima mohon. Jangan pernah tinggalin Rima. Rima rela jadi yang kedua. Rima mohon mas …”
            “Rima, lepasin mas!”
            “Nggak! Rima nggak akan lepasin mas!” Aku terus memeluk kaki mas Anang seerat-eratnya. Aku menangis dan terus menangis, merengek seperti anak kecil.
            “Dengar Rima, buat mas kamu ini hanya untuk iseng! Kamu nggak ada artinya apa-apa untuk mas! Kamu murahan!”
            Tanganku mendadak lemas, Mas Anang menendangku hingga tersungkur. Dia pergi begitu saja meninggalkanku meringkuk sendiri di pinggir pantai.
Seluruh kekecewaan yang mendalam tertumpuk dalam hatiku. Hatiku sakit, sakit sekali. Untuk kesekian kalinya, laki-laki yang aku cintai hanya mencintai tubuhku.
            Dan kini senja yang semakin tenggelam, mengiringi jatuhnya air mataku.

***
            Ibu mengelus-elus rambutku di pangkuannya. Dia menguatkan hatiku. Ibu sudah berkali-kali bilang padaku bahwa Mas Anang pasti akan kembali pada istrinya. Seperti ayah yang selalu kembali pada ibu, meski sudah berkali-kali ketahuan selingkuh …

FIN