LAJANG
Di balkon apartemennya yang mewah, Rano menghirup udara
pagi kota Jakarta yang masih terasa lumayan segar. Sesekali Rano terlihat
menyeruput lattenya. Wajah Rano
begitu cerah, karena tidak ada lagi mamanya yang selalu bawel menyuruhnya untuk
segera menikah. Memang begitu enaknya hidup melajang dan tinggal sendiri di
apartemen.
Sepertinya Rano terlalu asyik dengan kopi susunya,
sampai-sampai dia tidak sadar ada seseorang yang sudah memasuki apartemennya.
“Good morning, my
gorgeous!”
Rano menengok ke belakang, dia sudah tidak asing lagi
dengan panggilan itu.
“Susan?”
“Surprising,
right?”
Rano lalu menghampiri Susan dan memeluknya. Wajah Susan
terlihat sangat cerah dalam pelukan Rano.
“Oh God, I miss you
a lot, miss you hugging me like now. I’m so happy coming here…”
“Really?” Tanya
Rano menggoda Susan, pura-pura tidak percaya kalau Susan sangat merindukannya.
“I’m not a liar,
like you, haha…” Susan tertawa, lalu melepaskan diri dari pelukan teman
semasa kecilnya itu. Dia berjalan menuju sofa di ruang tengah. Rano menyusulnya
Susan duduk di sofa dan memangku tasnya. Dia terlihat
mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Apa itu?” Tanya Rano penasaran, saat melihat apa yang
diambil Susan dari dalam tas.
“Ini titipan mama kamu, kering kentang favorit kamu,
Rano.” Jawab Susan sembari meletakkan setoples kecil kering kentang di atas
meja.
Rano mengangguk-angguk, “Thanks yah.”
“You’re welcome.”
“Kenapa kamu
nggak kasih kabar kalau udah pulang dari Inggris?”
“Aku pengen kasih kamu surprise, tapi kayaknya kamu biasa aja ketemu aku lagi. Kamu nggak
kangen sama aku kan?” Tatapan Susan sedikit kesal, wajahnya cemberut.
“Hei, aku pasti kangen kamu lah. Kita udah 2 tahun nggak
ketemu. Kamu ngomong apa sih.” Rano menjawab sambil mengacak-acak poni Susan, seperti
yang dulu sering dia lakukan waktu kecil.
Susan lalu tersenyum mendengar jawaban Rano dan
membenarkan lagi letak poninya. Dia rindu sekali saat Rano mengacak-acak
poninya seperti dulu.
“O iya, kamu ngapain sih pindah ke Jakarta dan tinggal di
apartemen? Di Bandung juga banyak kerjaan yang bagus kan?”
“Aku pengen sesuatu yang baru, Bunny…”
“Kamu bohong,
Rano. Aku tahu betul alasan kamu pindah ke Jakarta.”
“Udahlah Bunny, kamu jangan seperti mama yang bawel dan
selalu nyuruh aku buat cepat-cepat nikah. Aku nggak ngerti kenapa semua
laki-laki harus menikah dan berakhir menjadi seorang suami? Aku ingin lepas
dari paradigma itu. Aku ingin hidup sukses dan independen, Bunny… Kamu ngerti
kan apa yang aku maksud?”
“Rano, kamu udah sukses. Kamu mau apa lagi?”
Rano tidak menjawab pertanyaan dari Susan. Rano terlihat
bingung. Susan benar, apa lagi yang dia inginkan. Dia sudah punya segalanya,
tapi dia masih mencari sesuatu, dan dia tidak tahu sesuatu apa yang sedang dia
cari itu.
“My gorgeous,
listen to me… Hidup kamu seperti nggak ada tujuan, dan aku bisa lihat jelas
itu. Kamu masih menginginkan sesuatu, tapi kamu nggak tahu apa yang kamu
inginkan. Kamu ingin terus-terusan seperti ini?”
Rano mendengus, Susan benar-benar menangkap mimik
wajahnya yang bingung.
“Kamu tahu apa mimpi besar aku?”
Rano menggelengkan kepalanya, dan
menatap Susan dengan sangat serius.
“Mimpi terbesar aku dalam hidup ini adalah menjadi
seorang ibu rumah tangga, tinggal di rumah, mengurus anak-anak, dan mencium
suamiku saat aku bangun di pagi hari.
Rano tercengang mendengar jawaban Susan. Dia memang
tumbuh besar bersama Susan sejak kecil, tapi dia baru mendengar yang satu ini,
“Sounds nice, kamu jauh-jauh belajar
S2 ke Eropa hanya untuk menjadi ibu rumah tangga?”
“Itu tujuan hidupku Rano.” Ucap Susan dengan tersenyum.
Rano terdiam, dan merasakan arti yang mendalam dari
kata-kata Susan…
***
Malam hari di Plaza Indonesia, Susan termangu sendirian
ditemani secangkir cappucino. Berulang
kali Susan melihat jam tangan. Sesekali dia menghirup cappucinonya. Menunggu
memang hal yang paling menjemukan. Namun, bila yang ditunggu adalah orang
terkasih, hal itu tidak akan jadi masalah.
Sembari mengusir rasa bosan, Susan menyalakan mp3 di
ponselnya dan memasang headset di telinga. Terkadang Susan terlihat menengok ke
arah pintu masuk. Namun, orang yang dia tunggu tidak muncul-muncul juga. Susan
menarik nafas panjang, dan bernyanyi-nyanyi lirih untuk menghibur dirinya
sendiri.
Lama-lama Susan lelah, dia menengok lagi ke pintu masuk,
tapi malah pria-pria setengah baya yang melempar senyum genit padanya. Susan
yang merasa jijik langsung nyengir dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Susan mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya.
Susan berteriak dalam hatinnya.
RANO, KAMU DIMANA???
***
Susan beranjak dari Starbucks dengan langkah penuh emosi.
Baru pertama kali ini dia membuat janji dengan Rano, setelah baru pulang dari
London. Namun, Rano begitu cuek. Selama bertahun-tahun bersahabat dengan Rano,
Susan tidak pernah dikecewakan. Rano selalu menepati janjinya.
Apa mungkin Rano sudah berubah? Jauh-jauh dia pulang ke
Bandung, hanya untuk menghampiri Rano di Jakarta. Susan berusaha memenuhi
janjinya pada Mama Rano. Mama Rano ingin supaya Rano berubah pikiran untuk
melajang dan segera menikah.
Mengingat janjinya pada Mama Rano, langkah kaki susan
semakin lesu. Dia begitu sulit menggapai hotel tempatnya menginap yang hanya
tinggal beberapa langkah lagi. Susan terdiam lemah. Tiba-tiba dia terpikir
untuk menghampiri Rano di apartemennya.
“TAKSI!!!”
***
Hantaman wedges
Susan di lantai terdengar sedikit berisik. Dia berjalan menyusuri lorong
apartemen dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar tidak sabar untuk segera
memarahi Rano. Rano memang sangat menjengkelkan.
Sesampainya di depan pintu kamar Rano, tiba-tiba jantung
Susan berdegup kencang. Perasaannya sangat tidak enak. Dia sempat ragu untuk
mengetuk pintu, dan rupanya Rano tidak mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu
sudah sedikit terbuka, namun Susan belum beranjak satu langkah pun dari posisi
awalnya. Kakinya terasa berat sekali.
Jantungnya malah berdegup semakin kencang saja. Akhirnya
Susan memasuki apartemen Rano dengan penuh keragu-raguan. Terdengar suara
perempuan dari ruang tengah. Susan lemas. Dia berusaha terus melangkahkan kakinya
menuju ruang tengah, dan apa yang dilihat oleh Susan. Rano sedang bercumbu
dengan seorang wanita di sofa.
Susan tidak sanggup bergerak. Adegan itu terjadi di depan
matanya. Rupanya mereka belum menyadari kehadiran Susan. Susan sangat sakit
hati. Rano mengingkari janjinya untuk bercumbu dengan wanita lain. Susan
mengelus-elus dadanya dan air mata mulai tumpah. Mengapa sahabat yang
menemaninya tumbuh hingga dewasa sudah berubah?
Bukan hanya itu, lalu bagaimana dengan rasa cintanya yang
mulai tumbuh pada Rano? Rano malah tidak pernah menyadarinya.
“Rano, kamu tega…” Satu kata meluncur dari Susan sebelum
berlari keluar dari apartemen Rano. Rano terkejut dan mencampakkan wanita itu.
Dia mengejar Susan hingga lobi apartemen.
***
Udara malam berhembus dingin, dan malam semakin larut. Hanya kesunyian yang merapat di hati Susan. Susan terduduk lemah dan terisak di sebuah halte dekat apartemen Rano. Hatinya begitu perih. Dia baru merasakan luka sepedih ini seumur hidupnya. Baru saja pulang dari London, dia sudah disuguhi pengkhianatan dari sahabatnya sendiri.
Dari
jarak 100 meter, terlihat bayangan Rano. Terlukis penyesalan di wajah Rano.
Namun, apa arti penyesalannya itu. Sedangkan Susan sudah terlanjur terluka.
Perlahan-lahan, Rano menghampiri Susan. Susan masih
menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia benar-benar tidak peduli
dengan kedatangan Rano. Rano lalu langsung duduk disamping Susan.
Rano mengelus pundak Susan… Tanpa basa-basi Susan
langsung membuang tangan Rano. Kali ini Susan menatap wajah Rano. Tatapan Susan
begitu tajam. Tatapan itu menyiratkan kebencian dan kekecewaan yang mendalam
pada Rano.
“Aku tahu, kenapa kamu nggak mau menikah. Itu karena kamu
mau hidup bebas dan bercinta dengan banyak wanita tanpa komitmen kan?” Tuduh
Susan pada Rano.
“Bunny, aku nggak sehina itu!”
“Lalu apa, Rano??”
“Kita cuma teman.”
“Oh ya? Jadi itu yang dilakukan sepasang pria dan wanita
yang berteman??” Susan menyindir sambil menghapus sisa-sisa air matanya yang
berceceran di pipi.
“Ini Jakarta, Susan. Hal seperti ini sudah biasa. Kamu
jangan berlebihan, jangan kekanak-kanakan.”
“Kekanak-kanakan? Rano, aku tinggal di London selama 2
tahun dan berteman dengan banyak laki-laki, tapi aku nggak pernah melakukan
hal-hal seperti itu.”
Rano terdiam. Tatapan Susan membunuhnya, menghalangi
kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
“Sekarang aku nggak akan tanya tentang perempuan itu, aku
nggak mau tahu siapa dia, aku nggak peduli, yang aku mau tahu kenapa kamu
lupakan janji kamu? Aku menunggu kamu berjam-jam di Starbucks, Rano… Kamu dulu
nggak pernah seperti ini. Kamu sekarang benar-benar lain…” Lanjut Susan.
“Maafin aku, Susan… Aku benar-benar lupa.”
Susan beranjak dari bangku halte dan berdiri, “Fine, Rano… Sepertinya sudah nggak ada
alasan lagi buat aku untuk lebih lama lagi tinggal di Indonesia. Lebih baik aku
kembali ke London.”
Rano menarik tangan Susan.
“Bunny, maafin aku…”
“Kamu nggak pernah tahu, Rano. Kamu nggak ngerti
perasaanku. Aku kembali kesini untuk kamu.”
Rano tercengang, mencoba mengartikan jawaban Susan.
Namun, Susan sudah terlanjur memasuki taksi yang dipesannya. Rano tertunduk
lesu. Dia tidak pernah melihat Susan sesedih
itu seumur hidupnya. Dulu mungkin Susan akan menangis saat Rano merebut
bonekanya. Namun, sekarang Susan menangis karena Rano tidak pernah menyadari
perasaan cintanya…
***
Rano
sahabatku,
Dulu
aku tidak akan mengharapkan apapun darimu, kecuali kamu tetap disampingku. Tetap
menjadi temanku, bermain bersamaku dan tertawa bersamaku. Namun sekarang
sesuatu tumbuh dalam hatiku, ingin memilikimu…
Aku
bukannya ingin menodai persahabatan kita, tapi aku benar-benar tidak bisa
menahan tumbuhnya perasaan ini. Makanya lebih baik aku pergi. Aku akan coba
mengerti tujuan hidupmu, dan aku nggak mau memaksamu untuk menikahiku. Jika
kamu sudah berubah pikiran suatu saat nanti, kamu bisa memilih wanita manapun
yang kamu mau, bukan aku…
Maafkan
aku, Rano…
Maafkan
aku karena sudah mencintaimu…
-Susanna
E. Shirazy-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kalo kamu suka sama isi blog aku...
di-comment yaaa...
=D