Tampilkan postingan dengan label Cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Dinding Part 1


Dinding
       Prinsip yang berkembang sejak ia lahir, yang telah mendarah daging, dan mengalir dalam setiap hembusan nafasnya. Tanpa disadari telah menjadi jurang yang sangat dalam. Jurang itu memang sudah ada sejak lama. Namun seketika datang menyadarkan Annisa, seiring dengan rasa cinta yang perlahan tumbuh di hatinya.
***
            Dulu saat masih kecil, ketika Radit sedang bermain gitar di teras rumah, Annisa pasti langsung menyusul Radit dan bernyanyi bersama hingga berjam-jam. Tapi sekarang Annisa hanya bisa mendengarkan alunan gitar Radit dari teras rumahnya sendiri. Jika dia ikut bernyanyi bersama Radit, Annisa akan mendapat delikan yang tajam dari abinya. Abinya bilang bahwa menyanyi itu pekerjaan setan untuk menggoda manusia.
            Sekarang Annisa sudah sangat puas hanya dengan mendengar dentingan gitar Radit dari balik dinding terasnya.
            Annisa tersenyum-senyum sendiri di teras rumahnya saat Radit memainkan lagu balonku ada lima. Suara Radit terdengar konyol saat bernyanyi-nyanyi. Annisa lalu melongokkan kepalanya di dinding yang menjadi batas rumahnya dengan rumah Radit. Komunikasi antar dinding memang sering terjadi diantara mereka.
            “Radit jelek! Nggak ada lagu lain apa?”
            “Annisa onye’, bosen nyanyi lagu unyu-unyu terus.”  Radit memang suka sekali memanggil Annisa dengan sebutan Onye. Onye’ adalah plesetan dari kata monyet. Bukan wajah Annisa yang seperti monyet, tapi rambut alis Annisa tebal sekali mirip bulu monyet. Kedengarannya memang aneh dan tidak masuk akal. Annisa kan cantik dan tidak mirip monyet sama sekali. Tapi ya memang begitulah mereka.
            “Kan nggak harus lagu unyu-unyu jugaa…”
            “Haha, iya sih Nis.”
            “Lagu cinta dong, Dit.”
            “Yah, unyu-unyu lagi dong Nis. Oke deh, buat kamu apa sih yang nggak, Nis. Haha…”
            “Dasar! Radit jelek tukang gombal.”
            Radit lalu memainkan kembali jari-jarinya pada senar gitar. Dia memainkan lagu ‘I can’t help’nya Richard Marx. Radit benar-benar menghayati lagu romantis itu, sampai menyanyikannya dengan mata terpejam. Suara Radit terdengar lumayan bila menyanyi sedikit serius.
            “Wish men say, only fool rush in … But I can’t help falling in love with you…”
            Nyanyian Radit terhenti, saat melihat pipi Annisa yang bersemu merah. Radit begitu terpana. Gadis cantik itu tersenyum sambil tersipu. Hidungnya yang menjulang dan alisnya yang tebal melukis senyum yang indah di wajah Annisa. Annisa salah tingkah saat melihat Radit memandangnya. Beruntung Uminya segera mengajaknya untuk makan siang.
            “Annisa, makan dulu nak…”
“Iya, Umi. Aku makan dulu ya, Dit.” Ujar Annisa sambil tersenyum sedikit kikuk.
Radit mengangguk dan tersenyum. Annisa pun segera beranjak dari dinding teras dan masuk ke rumah.
“Nak Radit, sudah makan belum? Mau makan bareng sama Annisa?” Umi Annisa menawarkan makan siang pada Radit.
“Ah, nggak usah tante, makasih.” Jawab Radit sambil tersenyum.
“Ya udah kalo gitu, tante masuk dulu ya.”
“Iya tante, silakan.”
***
            Annisa dan uminya hanya makan siang berdua. Itu karena abinya Annisa masih berada di kantor. Annisa sangat menikmati makan siangnya. Setelah makan siang habis, Annisa tidak langsung meninggalkan meja makan. Dia menatap dalam-dalam Uminya yang masih terlihat menghabiskan makan siang. Annisa tidak berkedip, dia melihat dirinya dan Uminya berbeda. Uminya memakai hijab dan dia tidak.
            “Umi, gimana rasanya pakai hijab?”
            “Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu sama umi nak?”
            “Annisa kan udah pernah janji, umi. Annisa ingin pakai jilbab saat Annisa sudah baligh. Annisa rasa ini sudah waktunya Annisa berhijab. Annisa ingin tahu bagaimana rasanya, Umi…”
            “Memakai hijab itu membuat hati umi tentram, nak. Tapi umi dan abi tidak pernah mau memaksakan kamu untuk berhijab. Lebih baik kamu berhijab atas keinginan kamu sendiri.”
            Annisa mengangguk-angguk. Dia begitu bangga terhadap kedua orang tuanya yang bersikap bijak padanya
            “Iya, umi. Meskipun abi dan umi tidak pernah mewajibkan Annisa untuk berhijab, Annisa memang sudah sejak lama ingin berhijab. Rasanya senang sekali umi, melihat teman-teman Annisa yang berhijab. Mereka terlihat cantik dan anggun, umi.”
            “Iya nak, tapi ingat satu hal. Kalau kamu sudah berhijab, kamu harus membawa nama baik hijabmu. Hijab bukan hanya sekedar hiasan kepala, nak.”
            “Annisa sudah memikirkannya, umi dan Annisa sudah memutuskannya.”
            “Umi senang nak, kalau kamu mau berhijab atas keinginanmu sendiri. Kamu begitu cantik nak. Memang sudah waktunya kamu untuk menutupi auratmu.”
            “Kalau umi tidak keberatan, umi mau tidak menemani aku untuk membeli hijab?”
            “Tentu saja sayang, dengan senang hati. Umi mau sekali.”
            Annisa melompat-lompat kegirangan. Dia memeluk dan menciumi uminya.

***
            Annisa memandangi wajahnya di kaca. Dia menatap wajahnya dalam-dalam. Annisa tersenyum-senyum sendiri. Dia terlihat lebih cantik saat memakai hijab. Hijab-hijab yang dibelikan uminya, dicobanya satu per satu. Annisa antusias sekali.
            Annisa sudah mantap. Sudah sering dia merasa iri pada teman-temannya yang memakai hijab. Sekarang memang sudah saatnya bagi Annisa untuk mengobati rasa iri itu.
            Saat sedang asyik-asyiknya mencoba hijab, Annisa kaget. Uminya tiba-tiba masuk ke kamar. Annisa malu sekali.
            “Ah, umi membuat Annisa kaget saja. Annisa malu, umi.” Ujar Annisa sambil tersipu.
            “Kenapa harus malu, nak? Coba sini umi lihat.” Umi mengangkat dagu Annisa yang menunduk.
            Umi memandangi wajah putri tunggal kesayangannya itu. Umi tersenyum, “Subhanallah, kamu cantik sekali memakai hijab, nak. Kamu benar-benar putri umi yang sangat cantik. Tunggu nak, abi harus lihat kamu sekarang.
            Dengan tergesa-gesa, umi menggandeng Annisa keluar kamar. Mereka menghampiri abi yang sedang menonton TV di ruang tengah.
            “Abi! Lihat siapa ini.”
            “Siapa umi?” Abi masih belum ‘ngeh’ dan tetap peduli pada acara TV yang dia tonton.
            “Ayo Abi, cepat lihat.” Ujar umi dengan tidak sabar. Abi pun menengok ke arah umi dan langsung tercengang melihat sosok gadis cantik berhijab yang berdiri di samping umi. Abi pun langsung mendekati Annisa.
            “Subhanallah, ini Annisa anak kita, mi? Ya Allah, cantik sekali kamu nak. Kamu pantas sekali memakai hijab.” Abi memuji Annisa hingga tersipu.
            “Siapa dulu bi, anaknya umi. Cantiknya aja nurut umi.” Umi membanggakan Annisa.
            “Anak abi dong mi, lihat hidungnya aja mancung kayak abi.”
            “Hidung umi juga mancung, bi. Anak umi doong…”
            Annisa tertawa. Rasanya lucu sekali melihat abi dan uminya berebut.
            “Abi dan umi gimana sih? Annisa ini kan anaknya abi sama umi.”
            Abi dan umi pun ikut-ikutan tertawa. Mereka memeluk dan mencium pipi Annisa bersamaan.
***
            Radit memandangi Annisa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Penampilan Annisa benar-benar tertutup. Radit sampai tidak sanggup lagi berkata-kata. Annisa semakin cantik dengan hijabnya.
            “Annisa …” Radit terdiam dan tidak berkata-kata.
            Annisa tersipu.
            “Kamu, kenapa dit?”
            “Nis, sekarang kamu pakai kerudung?”
            Annisa hanya mengangguk.
            “Kamu kelihatan tambah cantik, Nis.”
            “Makasih Radit…”
            Umi Annisa lalu muncul dari dalam dan mengembalikan piring milik Radit.
            “Radit, bilang sama mama ya. Makasih buat kwetiaunya. Pasti sebentar lagi habis.” Ucap Umi Annisa sambil tersenyum.
            “Iya, sama-sama tan… Pasti aku sampaikan ke mama. Radit pulang dulu, tan .. ”
“Iya, makasih ya Radit.” Ujar umi Annisa.
“Nis, pulang dulu ya.”
“Iya Radit.” Jawab Annisa singkat. Radit pun kembali ke rumahnnya yang hanya terletak di sebelah rumah Annisa.
            Bertahun-tahun, sejak Annisa masih di dalam kandungan. Tante Rosa, mamanya Radit dan umi Annisa sudah bersahabat. Ketika Natal tiba, umi Annisa pasti akan mendapatkan kunjungan cake dari Tante Rosa. Begitu juga sebaliknya. Bila Idul Fitri datang, umi Annisa membagikan lontong opor komplit pada keluarga tante Rosa. Berbagi dan bertukar makanan sudah menjadi tradisi dua tetangga ini. Mereka memang sudah lama hidup dalam toleransi.

***
           
            Malam ini hujan turun sangat deras. Seperti biasa, menjelang imlek memang selalu turun hujan. Annisa tertegun di teras rumah. Dia sangat suka melihat hujan dan mencium aromanya. Annisa memandangi jalanan dengan tatapan kosong. Dulu, dia dan Radit masih digendong oleh ibu mereka di depan rumah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang Radit sudah menjadi sosok yang tampan, dan Annisa tumbuh menjadi gadis perawan yang begitu cantik.
Annisa menggeleng dan tersadar dari lamunannya.
            Dari jalan terdengar langkah kaki. Radit terlihat membawa payung. Dia menghampiri Annisa.
            “Kamu dari mana, Radit?”
            “Aku habis dari gereja, Nis.”
            “Oh, rajin banget kamu, Dit. Hujan-hujan gini.” Ujar Annisa sambil tersenyum.
            “Nis, besok kamu mau nggak nemenin aku ke pecinan?”
            “Ngapain, Dit?”
            “Beli pernak-pernik buat imlek. Kamu mau kan?”
            Annisa tercenung. Mungkin dulu dia akan langsung berkata ‘ya’ pada ajakan Radit. Namun sekarang, dia harus berpikir dua kali. Batas antara dirinya dan Radit sekarang semakin jelas. Annisa bingung harus menjawab apa, tapi dia tidak ingin melukai perasaan Radit. Radit adalah teman dekatnya sejak kecil. Sejak dia baru lahir di dunia pun, Radit sudah menjadi temannya.
            “Radit, aku akan ikut kalau ada orang lain yang ikut juga.”
            “Maksudnya?”
            “Kita pergi ramai-ramai, nggak berdua.”
            Tatapan Radit mendadak hampa.
            “Iya, Nis. Aku akan ajak teman lagi.”
            Jawaban Radit menyiratkan kekecewaan. Annisa bisa melihat jelas kekecewaan itu. Biasanya mereka selalu bercanda, bernyanyi, dan pergi kemana pun berdua. Mereka adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Namun sekarang mereka sudah tumbuh dewasa. Masing-masing mempunyai pilihan hidup sendiri, dan ini sudah menjadi pilihan Annisa.
***
            Hujan diluar sangat deras, petir pun tak kunjung henti menggelegar. Annisa dan uminya terlihat cemas menunggu abi di ruang tengah. Abi belum pulang dari kantor, padahal ini sudah jam 8 malam. Akhir-akhir ini abi memang sering bercerita kalau dia sedang banyak masalah di kantor. Abi sudah berulang kali mengadu pada mereka tentang keinginannya untuk resign dari kantor. Berkali-kali umi menguatkan abi. Namun, pada akhirnya abilah yang memutuskan semuanya.
            Umi Annisa tersenyum saat terdengar suara mobil mengarah ke rumah. Itu artinya abi Annisa sudah pulang. Umi Annisa langsung menghampiri abi yang baru turun dari mobil dan membawakan tas kerja abi.
            “Abi, kenapa baru pulang?”
            “Iya, mi. Abi capek sekali.” Keluh Abi.
            Wajah Abi terlihat muram, tidak seperti biasanya. Melihat raut wajah abinya, Annisa merasakan sesuatu yang tidak enak.
            Saat makan malam berlangsung, abi tiba-tiba menghentikan makannya. Umi merasa merasa janggal dengan sikap abi.
            “Abi kenapa?”
            “Abi sudah memutuskan, mi.”
            “Memutuskan apa, bi?” Tanya Annisa. Annisa menatap abinya dengan sangat serius.
            “Abi sudah memutuskan untuk resign dari kantor.”
            “Terus kita semua gimana, bi?”
            “Kita semua pulang ke kampung halaman abi di Aceh, sayang. Kamu bisa lanjutin sekolah kamu disana, sayang…” Abi meraih dan menggenggam tangan Annisa. Abi ingin meyakinkan putri semata wayangnya itu.
            Umi dan Annisa terdiam. Keputusan Abi sudah bulat.
***
            Hari perpisahan itu tiba. Annisa memandangi wajah Radit untuk yang terakhir kalinya. Janjinya untuk menemani Radit membeli pernak-pernik imlek tidak bisa dia penuhi. Abi ingin mereka pindah ke Aceh sesegera mungkin.
            Bertahun-tahun sejak mereka lahir ke dunia, Annisa tidak pernah melihat raut wajah Radit sesedih itu. Bola mata Radit tergenang oleh air mata. Begitu juga dengan Tante Rosa, yang tidak lepas dari pelukan uminya. Sedangkan Om Fendi dan abi terlihat sedikit bercengkerama. Merekalah yang terlihat paling tegar.
            Satu orang lagi yang tidak bisa lepas dari pelukan Annisa, dia adalah Alin. Alin adalah adik Radit yang masih duduk di kelas 3 SMP. Alin menangis di pelukan Annisa, dan Radit hanya bisa mengelus-elus rambut adiknya itu.
            “Kak, siapa nanti yang bakal ajarin Alin belajar?”
            “Alin, kan ada Kak Radit. Kak Radit kan bakal temenin kamu belajar.”
            “Alin nggak mau, kak. Kak Radit nggak seperti Kak Nisa…” Ujar Alin dengan polos.
            “Kakak tau, Alin. Kita bisa tetep saling berhubungan kok. Kakak janji, kakak bakal sering telpon kamu.”
            Alin melepaskan diri dari pelukan Annisa.
            Sekali lagi, Annisa menatap wajah Radit dan itu mungkin untuk yang terakhir kalinya. Annisa menatap mata Radit dalam-dalam. Annisa tidak ingin melewatkan sedikitpun ekspresi wajah Radit untuk menatap objek lain. Hanya kesunyian yang merambat diantara mereka berdua, saat mata mereka bertemu dan bertatapan sangat lama. Annisa membisu, lidahnya begitu kelu. Selama bertahun-tahun dia bersama Radit, baru detik ini dia merasakan sesuatu. Sesuatu yang bergetar dalam jantungnya, yang membuatnya ingin mengutarakan sesuatu, namun begitu sulit.
            Annisa tidak mengerti akan perasaannya sendiri, yang mendadak begitu rumit.
            Sementara itu Radit hanya mampu menepuk bahu Annisa dan mengucapkan salam terakhir  pada sahabat kecilnya itu.
            “Nis, selamat jalan ya… Semoga kita bisa ketemu lagi.”
            Annisa justru hanya mengangguk, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya mulai menggenang air mata.
            “I don’t wanna say good bye to you. See yah, Alfonso Raditya.”
            Kata terakhir dari Annisa itu menutup pertemuan mereka.
***
            Waktu bergulir sangat cepat. Radit tidak pernah menyangka bahwa rumah yang berada disamping rumahnya itu kini sudah dihuni oleh orang lain. Dulu gadis bernama Annisa, dengan lekuk alis indah akan selalu memanggilnya dari balik tembok teras rumahnya.
            Tapi kini Radit hanya bisa mengenang wajah Annisa. Sesekali dia masih bisa memandangi foto-foto Annisa lewat akun facebooknya. Annisa akhir-akhir ini tidak pernah online. Radit merasa kehilangan sekali. Biasanya dia masih bisa mengejek Annisa lewat chat. Tapi beberapa hari ini Annisa benar-benar lenyap.
            Seandainya Annisa memegang ponsel, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya. Annisa memang tidak diperbolehkan abinya untuk memegang ponsel sendiri. Abinya benar-benar ingin mengawasi pergaulan Annisa. Annisa pernah bilang bahwa setelah lulus SMA, Annisa akan diperbolehkan membawa ponsel sendiri. Namun, sampai sekarang dia belum mendapatkan nomor ponsel Annisa. Itu artinya  Annisa belum membawa ponsel sendiri sampai saat ini.
            Radit merasa bosan lalu iseng membuka emailnya. Tanpa diduga, Radit mandapat satu email dari anisa_nisa@yahoo.com. Radit langsung antusias sekali membaca email itu.
            From : anisa_nisa@yahoo.com
            Radiiiiiiiiiiit…. Radit jelek!
            Jelek pasti cariin aku kaaan… Hehe… Akhir-akhir ini aku sibuk nih. Kamu tebak dong aku ngapain, Dit. ;p
            Aku mau pindah ke Jakarta, Dit. Akhirnya abi ijinin aku buat kuliah di Jakarta. Aku diterima di UI, dit. Aku seneeeeng bangeeeet… Kita bisa sering-sering ketemu kaya dulu lagi.
            See yah, Radit Jelek! ^^

            Radit tersenyum lebar, matanya bercahaya, Dia memandangi sekali lagi email dari Annisa, seolah tidak percaya. Wajahnya berbinar. Kini dia bisa bertemu kembali dengan Annisa.

to be continued…


           
           

Seven Days Love - Part 2


Seven Days Love
Part 2

            Bandung pagi ini lumayan dingin. Ditemani secangkir kopi, gue menghirup udara subuh di teras kosan. Suasana bener-bener damai, beda banget ketika beranjak siang. Kalau gue masih ada di Solo, mungkin bakal lain lagi ceritanya.

            Hidup gue dulu enak dan serba mewah. Mobil ada, jabatan mentereng, dan yang jelas masa depan cerah ada dalam genggaman gue. Semua yang gue mau selalu ada dan selalu disiapin. Makan tinggal makan, minum tinggal minum. Sekarang gue bener-bener merasa lain. Kalau mau makan harus cari atau bikin sendiri. Kalau mau minum juga harus bikin sendiri, nggak ada lagi pembantu yang bakal layanin gue. Tinggal di kosan emang udah sukses bikin gue mandiri. 

            Gue nggak akan semenderita ini kalau saja si ‘bangsat’ itu nggak kecewain gue…

            Air mata gue menetes…
***

            Ponsel gue berdering. Seharusnya nggak ada yang telpon gue jam segini. Ini kan jadwal gue berangkat kerja. Terpaksa deh telpon itu gue terima.

            Jantung gue berdegup kencang saat membaca nama yang muncul di layar ponsel. The call is coming  from my mom. Tangan gue gemeteran.

            “Haloo…” Jawab gue sedikit takut.
            “Nak, kamu udah makan belum? Bunda cemas mikirin kamu…”
            “Udah, bunda… Sasha udah makan…”
            “Makan sama apa tadi?” Tanya bunda dengan suaranya yang lembut.
            “Sasha makan sama telor ceplok bun…”

            Tiba-tiba Bunda terdiam, tidak mengatakan apa-apa. Gue bingung. Sesaat kemudian, terdengar suara isakan tangis dari seberang. Hatiku teriris. Bunda menangis di telepon lagi dan lagi.

            “Nak, kenapa kamu nggak pulang? Kamu pulang saja ke Solo, kamu nggak perlu sarapan telor ceplok lagi. Bunda akan siapin makanan-makanan enak kesukaan kamu untuk sarapan. Bunda kangen kamu… Kamu nggak pengen ketemu bunda lagi? Kamu nggak kangen sama adik kamu, Nensi? Nensi sebentar lagi melahirkan…”
            Kata-kata yang terucap dari mulut bunda sungguh belepotan, dikalahkan oleh tangis. Gue tercenung mendengar kata-kata bunda. Maafin aku, bun…
            “Nak, jawab bunda…” Rajuk bunda padaku.
            Semakin mendengar suara bunda, hatiku semakin perih.
            “Maafin Sasha, Bun…” Jawab gue dengan suara parau. Air mata mulai menggenangi sudut mata gue.
            “Sasha, untuk apa kamu ninggalin bunda dan hidup susah di Bandung?”

            Gue bener-bener nggak sanggup lagi menjawab pertanyaan bunda. Gue sendiri bingung mau jawab apa. Air mata gue sudah tumpah ruah memenuhi pipi. 

            Tit…Tit…

            Terpaksa gue harus tutup telpon, karena gue nggak sanggup dengar suara Bunda lagi. Karena semakin gue dengar suara bunda, gue jadi semakin sedih. Ponsel pun gue matiin. 

Maafin aku, Bunda…
***
Ini sudah pukul 1 siang. Gue menyusuri jalan menuju mall diiringi siulan dari para ABG labil. Mereka menyiuli rok mini gue pastinya. Gue cuek bebek. Terserah apa elo kata, yang penting gue nggak korupsi. SPG juga kerjaan yang halal.

Sambil terus berjalan, gue coba buat membersihkan eyeliner gue yang luntur pakai tisu. Gue memang paling nggak tahan denger suara bunda. Bukan karena gue benci sama bunda, tapi karena gue kangen setengah mati sama bunda. Gue mendadak jadi mallow tiap denger suara bunda. 

Akhirnya sampai juga, Pak Satpam udah melempar senyum ke gue. Gue segera isi absen dan masuk ke lokasi kerja gue.
Sesampainya di lokasi, gue udah disambut Nina.
“Hei, tumben banget elo agak telat, Sha.”
“Iya nih, gue tadi ketiduran di kos. Hehe…” Jawab gue ngaco.
“Eh, eyeliner elo kenapa tuh?”
“Ini ya? Kena air wudhu, Na. Hehe.” Lagi-lagi gue bohong. Gue emang sholat, tapi itu sebelum gue pake make-up.
“Elo sih… Sholatnya sebelum pake make-up napa?”
“Tadi kelupaan, Na. Gue kan buru-buru bangun tidur.”
“Benerin dulu sana, ntar dimarahin sama atasan.”
“Siap bos!” Nina langsung tertawa dan mencubit lengan gue, saat gue belagak hormat ke dia. Gue pun langsung ngacir ke toilet.

***
Keluar dari toilet, gue dikagetin sama kemunculan seseorang. Gila ya, dunia berasa sempit banget. Atau emang cuma orang itu-itu saja yang hadir di hidup gue. Niat gue mau melipir gitu dan pura-pura nggak lihat. Dasar nasib lagi sial, orang itu malah panggil nama gue. 

“Sasha! Elo Sasha kan?”
“Heh, elo lagi!” Respon gue cuek.
“Haha, kalo ketemu satu kali atau dua kali namanya kebetulan, tapi kalo udah yang ketiga kalinya gini namanya apa dong.” Ujar cowok itu ke-pedean.
“Namanya SIAL!” Jawab gue jutek.
Gue langsung ngacir ninggalin cowok itu. Kayak biasanya cowok itu ngintilin gue di belakang. Gue tahu, gue emang cantik. Tapi nggak gini juga caranya. Please deh, masak cowok secakep dia juga nggak laku. Pasti cewek laen banyak yang mau, apalagi diliat dari penampilannya kayaknya potongan orang kaya.
“Elo ngapain sih disini mulu dari kemaren! Nggak ada mall laen apa!” Umpat gue. Sementara cowok itu tetep pede jalan
“Gue tahu, elo kerja disini. Makanya gue kesini lagi.”
“Apa? Gue nggak ada waktu buat ngobrol sama elo. Gue mau kerja! BYE!”
Gue mempercepat langkah kaki gue, setengah berlari. Sumpah, gue agak merasa terancam sama cowok itu. Dia bakat banget nyelidikin orang. Apalagi gue masih agak alergi berurusan sama cowok.
***
“Hiiiih, dia lagi dia lagi….”
“Elo kenapa sih, Sha?” Nina keheranan lihat gue yang datang-datang dari toilet langsung ngedumel nggak jelas.
“Haha, nggak apa-apa kok, Na. Oh iya, tadi Mas Anjar udah kesini belom?” Gue mencoba mengalihkan pembicaraan. Mas Anjar itu pengawas marketing, yang biasanya ngawasin kerja para SPG.
“Belom, Sha.”
“Moga-moga aja nggak kesini…”
“Kok elo ngomongnya gitu.”
“Gue males aja, Na kalo diajakin makan siang lagi.”
“Kenapa males? Bukannya seneng.”
“Gue risih, gue emang dapetin kerjaan di tempat ini karena bantuan dia, tapi gue nggak harus balas budi dengan cara kayak gitu juga kan?”

Mas Anjar adalah orang yang ngasih gue kerjaan di mall ini sebagai SPG. Maklum umur gue emang sudah melewati ambang batas  untuk menjadi seorang SPG. Tahun ini aja umur gue bakal memasuki 26 tahun. Jadi tanpa bantuan Mas Anjar, sudah bisa dipastikan gue nggak bisa kerja sebagai SPG di tempat ini.
“Iya gue ngerti perasaan elo, Sha. Udah nggak usah dipikirin. Semangaaaaat!”
“Iya, semangaaat! Hehe..”
Gue dan Sasha pun menempatkan diri di lokasi yang terpisah, tujuannya biar dapet customer yang lebih banyak pastinya.
***
Gue berdiri diantara kerumunan orang-orang selama satu jam lebih. Belum satu orang pun yang menghampiri gue, walaupun cuma untuk sekedar tanya-tanya. Kaki gue pegal, gue berputar mencari tempat yang sekiranya bisa untuk duduk sebentar. Akhirnya gue menemukan tempat duduk. Lumayan gue bisa selonjoran sebentar. 

            Baru beberapa detik gue duduk, gue sadar sesuatu. Gue duduk tepat di depan etalase toko perhiasan. Gue lalu berusaha bertahan di tempat itu dan mencoba positive thinking. Gue mencoba mengalihkan pandangan dari kaca toko tersebut dan melihat-lihat ke arah lain. 

Namun, entah kenapa gue justru menatap sendu etalase toko itu. Sepasang cowok cewek terlihat dari kaca. Mereka saling bertatapan penuh cinta, sesekali tertawa bahagia. Mereka berdua lalu saling memakaikan cincin di jari manis satu sama lain. Gue menunduk. Mendadak hati gue perih. Semua bayang-bayang kelam masa lalu detik ini kembali menguasai hati gue. 

Pemandangan indah seperti itu, tidak akan pernah lagi terjadi dalam hidupku. Semua janji manis itu hanya fatamorgana. Diucapkan oleh seorang laki-laki bangsat, yang tidak pernah mengerti perasaan perempuan kesakitan seperti gue. Hati gue sakit. Semua harapan-harapan gue seperti pusaran air yang tertelan ombak. Begitu kuat, namun lenyap dikalahkan oleh rasa kecewa. Gue dicampakkan seperti sampah. Dia nggak menghargai perasaan yang sudah gue tabur selama bertahun-tahun hanya untuknya. Gue menangisi diri gue sendiri. Si cantik dan si sempurna Sasha telah dikalahkan oleh seorang laki-laki biadab.

Benar sekali, saat itu cinta telah mengalahkan gue.

Air mata meleleh begitu saja. Gue sudah lelah menyembunyikan air mata gue dan menampakkan senyum palsu di wajah. Semua rasa sakit itu tiba-tiba tumpah. Detik ini juga gue mengangis deras. Sudah coba gue tahan, tapi ini benar-benar sulit.

“Tunggu aku setahun lagi dek… Aku akan menikahi kamu.”

Itu yang diucapkan laki-laki bangsat itu, saat memakaikan cincin di hari pertunanganku.  Betapa sakitnya, mengingat kata-kata itu. Setidaknya dia tidak perlu berjanji untuk menikahi gue.

Gue pun berlari menuju toilet…
***
“Sasha!”
Sial, cowok itu memanggil gue. Kenapa disaat gue berlumuran air mata, cowok itu justru lihat gue. Tapi gue tetep berlari menuju toilet. Gue nggak peduli sama cowok itu.

Cowok itu mengejar gue, gue pun berlari semakin kencang. Kenapa di saat-saat begini, toilet justru terasa jauh. Gue lelah, akhirnya gue membersihkan pipi dengan telapak tangan gue dan membiarkan cowok itu menghampiri gue.
“Elo kenapa?” Cowok itu bertanya sambil menyentuh dagu gue.
“Gue nggak kenapa-napa, nggak ada urusannya sama elo.” Gue mencoba mengalihkan pandangan karena gue takut menatap mata cowok itu.
“Elo udah ketahuan nangis juga, pura-pura kuat lagi. Dasar cewek keras kepala!”
“Eh, elo tuh siapa sih? Apa urusan elo? Gue juga nggak kenal sama elo. Gue juga baru kemaren lihat elo. Nggak usah sok-sok komentarin gue deh!”
Gue pun meninggalkan cowok itu, sialnya cowok itu tiba-tiba menarik tangan gue, “Ikut gue.”
“Apa-apaan sih elo, lancang banget.”

Cowok itu menggandeng tangan gue erat, semakin gue mencoba lepasin tangan gue, genggamannya malah semakin erat. Gue pasrah. Kaki gue menurut saja kemana cowok itu melangkah. Kita berdua memasuki lift, dan saat keluar dari lift gue terkejut. Gue dan cowok itu berada di lantai paling atas gedung mall. 

Angin begitu kencang menerpa rambut gue. Gue berjalan menuju tepian dan melihat ke bawah. Di bawah terlihat pemandangan lalu lalang kendaraan yang ramai. Gue merasa sedikit tenang dan detik itu juga, gue merasa ingin lompat dari atas gedung itu, dan semua masalah akan pergi bersama roh gue.

Namun, cowok itu menepuk bahu gue.

“Gue ngajakin elo kesini bukan untuk nyuruh elo lompat.” Ucap cowok itu dengan sedikit senyum di wajahnya.
Sial! Dia bisa baca pikiran gue.
“Sok tahu elo! Siapa yang mau lompat?” Gue mengelak.
“Gue bukan bocah ingusan yang bisa elo boongin. Saat seseorang lagi banyak masalah dan mereka melihat jurang di depan mereka, satu-satunya yang mereka pikirin adalah lompat ke jurang itu. Mereka pikir dengan lompat ke jurang itu semua masalah akan selesai. Mereka juga berpikir bahwa masalah harus dihindari, dan itu salah besar. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan. Sebesar apapun masalah hidup kita, kita nggak boleh lari. Tetap kuat, semangat, dan hadapi. Betul kan, Sha?”

Gue mengangguk dan tersenyum mendengar kata-kata itu. Entah kenapa setiap kata yang meluncur dari bibir cowok itu membawa ketenangan buat gue. Detik itu juga, gue merasa lain. Gue merasa gue nggak perlu alergi sama cowok yang satu ini. Sepertinya dia lain.
“Hei cowok aneh, siapa sih nama elo?”
“Akhirnya elo tanya juga nama gue. Elo panggil aja gue Toro.”
“Ooo, jadi nama elo Toro…”
“Iya, gimana elo udah agak lega sekarang?”
Gue menggeleng.
“Elo teriak aja sekenceng-kencengnya. Itu bakal bikin elo lega.”
“Teriak disini?”
“Iya lah.”

Gue pun menarik nafas panjang dan berteriak sangat kencang. Gue berteriak seolah olah nggak ada siapa-siapa di deket gue, termasuk cowok itu. Gedung mall juga lumayan tinggi, dan cukup buat meredam suara gue. Bukan cuma sekali atau dua kali gue berteriak, tapi berkali-kali. Gue lega…
Thanks Toro…