Dinding
Prinsip yang
berkembang sejak ia lahir, yang telah mendarah daging, dan mengalir dalam
setiap hembusan nafasnya. Tanpa disadari telah menjadi jurang yang sangat
dalam. Jurang itu memang sudah ada sejak lama. Namun seketika datang
menyadarkan Annisa, seiring dengan rasa cinta yang perlahan tumbuh di hatinya.
***
Dulu saat masih kecil, ketika Radit
sedang bermain gitar di teras rumah, Annisa pasti langsung menyusul Radit dan
bernyanyi bersama hingga berjam-jam. Tapi sekarang Annisa hanya bisa
mendengarkan alunan gitar Radit dari teras rumahnya sendiri. Jika dia ikut
bernyanyi bersama Radit, Annisa akan mendapat delikan yang tajam dari abinya. Abinya
bilang bahwa menyanyi itu pekerjaan setan untuk menggoda manusia.
Sekarang
Annisa sudah sangat puas hanya dengan mendengar dentingan gitar Radit dari
balik dinding terasnya.
Annisa tersenyum-senyum sendiri di
teras rumahnya saat Radit memainkan lagu balonku ada lima. Suara Radit
terdengar konyol saat bernyanyi-nyanyi. Annisa lalu melongokkan kepalanya di
dinding yang menjadi batas rumahnya dengan rumah Radit. Komunikasi antar
dinding memang sering terjadi diantara mereka.
“Radit jelek! Nggak ada lagu lain
apa?”
“Annisa onye’, bosen nyanyi lagu
unyu-unyu terus.” Radit memang suka
sekali memanggil Annisa dengan sebutan Onye. Onye’ adalah plesetan dari kata
monyet. Bukan wajah Annisa yang seperti monyet, tapi rambut alis Annisa tebal
sekali mirip bulu monyet. Kedengarannya memang aneh dan tidak masuk akal.
Annisa kan cantik dan tidak mirip monyet sama sekali. Tapi ya memang begitulah
mereka.
“Kan nggak harus lagu unyu-unyu
jugaa…”
“Haha, iya sih Nis.”
“Lagu cinta dong, Dit.”
“Yah, unyu-unyu lagi dong Nis. Oke
deh, buat kamu apa sih yang nggak, Nis. Haha…”
“Dasar! Radit jelek tukang gombal.”
Radit lalu memainkan kembali
jari-jarinya pada senar gitar. Dia memainkan lagu ‘I can’t help’nya Richard
Marx. Radit benar-benar menghayati lagu romantis itu, sampai menyanyikannya
dengan mata terpejam. Suara Radit terdengar lumayan bila menyanyi sedikit
serius.
“Wish
men say, only fool rush in … But I can’t help falling in love with you…”
Nyanyian Radit terhenti, saat
melihat pipi Annisa yang bersemu merah. Radit begitu terpana. Gadis cantik itu
tersenyum sambil tersipu. Hidungnya yang menjulang dan alisnya yang tebal
melukis senyum yang indah di wajah Annisa. Annisa salah tingkah saat melihat
Radit memandangnya. Beruntung Uminya segera mengajaknya untuk makan siang.
“Annisa, makan dulu nak…”
“Iya, Umi. Aku
makan dulu ya, Dit.” Ujar Annisa sambil tersenyum sedikit kikuk.
Radit mengangguk
dan tersenyum. Annisa pun segera beranjak dari dinding teras dan masuk ke
rumah.
“Nak Radit,
sudah makan belum? Mau makan bareng sama Annisa?” Umi Annisa menawarkan makan
siang pada Radit.
“Ah, nggak usah
tante, makasih.” Jawab Radit sambil tersenyum.
“Ya udah kalo
gitu, tante masuk dulu ya.”
“Iya tante,
silakan.”
***
Annisa dan uminya hanya makan siang
berdua. Itu karena abinya Annisa masih berada di kantor. Annisa sangat
menikmati makan siangnya. Setelah makan siang habis, Annisa tidak langsung
meninggalkan meja makan. Dia menatap dalam-dalam Uminya yang masih terlihat
menghabiskan makan siang. Annisa tidak berkedip, dia melihat dirinya dan Uminya
berbeda. Uminya memakai hijab dan dia tidak.
“Umi, gimana rasanya pakai hijab?”
“Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti
itu sama umi nak?”
“Annisa kan udah pernah janji, umi.
Annisa ingin pakai jilbab saat Annisa sudah baligh.
Annisa rasa ini sudah waktunya Annisa berhijab. Annisa ingin tahu bagaimana
rasanya, Umi…”
“Memakai hijab itu membuat hati umi
tentram, nak. Tapi umi dan abi tidak pernah mau memaksakan kamu untuk berhijab.
Lebih baik kamu berhijab atas keinginan kamu sendiri.”
Annisa mengangguk-angguk. Dia begitu
bangga terhadap kedua orang tuanya yang bersikap bijak padanya
“Iya, umi. Meskipun abi dan umi
tidak pernah mewajibkan Annisa untuk berhijab, Annisa memang sudah sejak lama
ingin berhijab. Rasanya senang sekali umi, melihat teman-teman Annisa yang
berhijab. Mereka terlihat cantik dan anggun, umi.”
“Iya nak, tapi ingat satu hal. Kalau
kamu sudah berhijab, kamu harus membawa nama baik hijabmu. Hijab bukan hanya
sekedar hiasan kepala, nak.”
“Annisa sudah memikirkannya, umi dan
Annisa sudah memutuskannya.”
“Umi senang nak, kalau kamu mau
berhijab atas keinginanmu sendiri. Kamu begitu cantik nak. Memang sudah
waktunya kamu untuk menutupi auratmu.”
“Kalau umi tidak keberatan, umi mau
tidak menemani aku untuk membeli hijab?”
“Tentu saja sayang, dengan senang
hati. Umi mau sekali.”
Annisa melompat-lompat kegirangan.
Dia memeluk dan menciumi uminya.
***
Annisa memandangi wajahnya di kaca.
Dia menatap wajahnya dalam-dalam. Annisa tersenyum-senyum sendiri. Dia terlihat
lebih cantik saat memakai hijab. Hijab-hijab yang dibelikan uminya, dicobanya
satu per satu. Annisa antusias sekali.
Annisa sudah mantap. Sudah sering
dia merasa iri pada teman-temannya yang memakai hijab. Sekarang memang sudah
saatnya bagi Annisa untuk mengobati rasa iri itu.
Saat sedang asyik-asyiknya mencoba
hijab, Annisa kaget. Uminya tiba-tiba masuk ke kamar. Annisa malu sekali.
“Ah, umi membuat Annisa kaget saja.
Annisa malu, umi.” Ujar Annisa sambil tersipu.
“Kenapa harus malu, nak? Coba sini
umi lihat.” Umi mengangkat dagu Annisa yang menunduk.
Umi memandangi wajah putri tunggal
kesayangannya itu. Umi tersenyum, “Subhanallah, kamu cantik sekali memakai
hijab, nak. Kamu benar-benar putri umi yang sangat cantik. Tunggu nak, abi
harus lihat kamu sekarang.
Dengan tergesa-gesa, umi menggandeng
Annisa keluar kamar. Mereka menghampiri abi yang sedang menonton TV di ruang
tengah.
“Abi! Lihat siapa ini.”
“Siapa umi?” Abi masih belum ‘ngeh’
dan tetap peduli pada acara TV yang dia tonton.
“Ayo Abi, cepat lihat.” Ujar umi
dengan tidak sabar. Abi pun menengok ke arah umi dan langsung tercengang
melihat sosok gadis cantik berhijab yang berdiri di samping umi. Abi pun
langsung mendekati Annisa.
“Subhanallah, ini Annisa anak kita,
mi? Ya Allah, cantik sekali kamu nak. Kamu pantas sekali memakai hijab.” Abi
memuji Annisa hingga tersipu.
“Siapa dulu bi, anaknya umi.
Cantiknya aja nurut umi.” Umi membanggakan Annisa.
“Anak abi dong mi, lihat hidungnya
aja mancung kayak abi.”
“Hidung umi juga mancung, bi. Anak
umi doong…”
Annisa tertawa. Rasanya lucu sekali
melihat abi dan uminya berebut.
“Abi dan umi gimana sih? Annisa ini
kan anaknya abi sama umi.”
Abi dan umi pun ikut-ikutan tertawa.
Mereka memeluk dan mencium pipi Annisa bersamaan.
***
Radit memandangi Annisa dari ujung
kepala sampai ujung kaki. Penampilan Annisa benar-benar tertutup. Radit sampai
tidak sanggup lagi berkata-kata. Annisa semakin cantik dengan hijabnya.
“Annisa …” Radit terdiam dan tidak
berkata-kata.
Annisa tersipu.
“Kamu, kenapa dit?”
“Nis, sekarang kamu pakai kerudung?”
Annisa hanya mengangguk.
“Kamu kelihatan tambah cantik, Nis.”
“Makasih Radit…”
Umi Annisa lalu muncul dari dalam
dan mengembalikan piring milik Radit.
“Radit, bilang sama mama ya. Makasih
buat kwetiaunya. Pasti sebentar lagi habis.” Ucap Umi Annisa sambil tersenyum.
“Iya, sama-sama tan… Pasti aku
sampaikan ke mama. Radit pulang dulu, tan .. ”
“Iya, makasih ya
Radit.” Ujar umi Annisa.
“Nis, pulang
dulu ya.”
“Iya Radit.”
Jawab Annisa singkat. Radit pun kembali ke rumahnnya yang hanya terletak di
sebelah rumah Annisa.
Bertahun-tahun, sejak Annisa masih
di dalam kandungan. Tante Rosa, mamanya Radit dan umi Annisa sudah bersahabat.
Ketika Natal tiba, umi Annisa pasti akan mendapatkan kunjungan cake dari Tante Rosa. Begitu juga
sebaliknya. Bila Idul Fitri datang, umi Annisa membagikan lontong opor komplit
pada keluarga tante Rosa. Berbagi dan bertukar makanan sudah menjadi tradisi
dua tetangga ini. Mereka memang sudah lama hidup dalam toleransi.
***
Malam ini hujan turun sangat deras.
Seperti biasa, menjelang imlek memang selalu turun hujan. Annisa tertegun di
teras rumah. Dia sangat suka melihat hujan dan mencium aromanya. Annisa
memandangi jalanan dengan tatapan kosong. Dulu, dia dan Radit masih digendong
oleh ibu mereka di depan rumah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Sekarang Radit sudah menjadi sosok yang tampan, dan Annisa tumbuh menjadi gadis
perawan yang begitu cantik.
Annisa
menggeleng dan tersadar dari lamunannya.
Dari jalan terdengar langkah kaki.
Radit terlihat membawa payung. Dia menghampiri Annisa.
“Kamu dari mana, Radit?”
“Aku habis dari gereja, Nis.”
“Oh, rajin banget kamu, Dit.
Hujan-hujan gini.” Ujar Annisa sambil tersenyum.
“Nis, besok kamu mau nggak nemenin
aku ke pecinan?”
“Ngapain, Dit?”
“Beli pernak-pernik buat imlek. Kamu
mau kan?”
Annisa tercenung. Mungkin dulu dia
akan langsung berkata ‘ya’ pada ajakan Radit. Namun sekarang, dia harus
berpikir dua kali. Batas antara dirinya dan Radit sekarang semakin jelas.
Annisa bingung harus menjawab apa, tapi dia tidak ingin melukai perasaan Radit.
Radit adalah teman dekatnya sejak kecil. Sejak dia baru lahir di dunia pun,
Radit sudah menjadi temannya.
“Radit, aku akan ikut kalau ada
orang lain yang ikut juga.”
“Maksudnya?”
“Kita pergi ramai-ramai, nggak
berdua.”
Tatapan Radit mendadak hampa.
“Iya, Nis. Aku akan ajak teman
lagi.”
Jawaban Radit menyiratkan kekecewaan.
Annisa bisa melihat jelas kekecewaan itu. Biasanya mereka selalu bercanda,
bernyanyi, dan pergi kemana pun berdua. Mereka adalah sahabat yang tidak
terpisahkan. Namun sekarang mereka sudah tumbuh dewasa. Masing-masing mempunyai
pilihan hidup sendiri, dan ini sudah menjadi pilihan Annisa.
***
Hujan diluar sangat deras, petir pun tak kunjung henti
menggelegar. Annisa dan uminya terlihat cemas menunggu abi di ruang tengah. Abi
belum pulang dari kantor, padahal ini sudah jam 8 malam. Akhir-akhir ini abi
memang sering bercerita kalau dia sedang banyak masalah di kantor. Abi sudah
berulang kali mengadu pada mereka tentang keinginannya untuk resign dari
kantor. Berkali-kali umi menguatkan abi. Namun, pada akhirnya abilah yang
memutuskan semuanya.
Umi Annisa tersenyum saat terdengar suara mobil mengarah
ke rumah. Itu artinya abi Annisa sudah pulang. Umi Annisa langsung menghampiri
abi yang baru turun dari mobil dan membawakan tas kerja abi.
“Abi, kenapa baru pulang?”
“Iya, mi. Abi capek sekali.” Keluh Abi.
Wajah Abi terlihat muram, tidak seperti biasanya. Melihat
raut wajah abinya, Annisa merasakan sesuatu yang tidak enak.
Saat makan malam berlangsung, abi tiba-tiba menghentikan
makannya. Umi merasa merasa janggal dengan sikap abi.
“Abi kenapa?”
“Abi sudah memutuskan, mi.”
“Memutuskan apa, bi?” Tanya Annisa. Annisa menatap abinya
dengan sangat serius.
“Abi sudah memutuskan untuk resign dari kantor.”
“Terus kita semua gimana, bi?”
“Kita semua pulang ke kampung halaman abi di Aceh,
sayang. Kamu bisa lanjutin sekolah kamu disana, sayang…” Abi meraih dan
menggenggam tangan Annisa. Abi ingin meyakinkan putri semata wayangnya itu.
Umi dan Annisa terdiam. Keputusan Abi sudah bulat.
***
Hari perpisahan itu tiba. Annisa memandangi wajah Radit
untuk yang terakhir kalinya. Janjinya untuk menemani Radit membeli
pernak-pernik imlek tidak bisa dia penuhi. Abi ingin mereka pindah ke Aceh
sesegera mungkin.
Bertahun-tahun sejak mereka lahir ke dunia, Annisa tidak
pernah melihat raut wajah Radit sesedih itu. Bola mata Radit tergenang oleh air
mata. Begitu juga dengan Tante Rosa, yang tidak lepas dari pelukan uminya.
Sedangkan Om Fendi dan abi terlihat sedikit bercengkerama. Merekalah yang
terlihat paling tegar.
Satu orang lagi yang tidak bisa lepas dari pelukan
Annisa, dia adalah Alin. Alin adalah adik Radit yang masih duduk di kelas 3
SMP. Alin menangis di pelukan Annisa, dan Radit hanya bisa mengelus-elus rambut
adiknya itu.
“Kak, siapa nanti yang bakal ajarin Alin belajar?”
“Alin, kan ada Kak Radit. Kak Radit kan bakal temenin
kamu belajar.”
“Alin nggak mau, kak. Kak Radit nggak seperti Kak Nisa…”
Ujar Alin dengan polos.
“Kakak tau, Alin. Kita bisa tetep saling berhubungan kok.
Kakak janji, kakak bakal sering telpon kamu.”
Alin melepaskan diri dari pelukan Annisa.
Sekali lagi, Annisa menatap wajah Radit dan itu mungkin
untuk yang terakhir kalinya. Annisa menatap mata Radit dalam-dalam. Annisa
tidak ingin melewatkan sedikitpun ekspresi wajah Radit untuk menatap objek
lain. Hanya kesunyian yang merambat diantara mereka berdua, saat mata mereka
bertemu dan bertatapan sangat lama. Annisa membisu, lidahnya begitu kelu.
Selama bertahun-tahun dia bersama Radit, baru detik ini dia merasakan sesuatu.
Sesuatu yang bergetar dalam jantungnya, yang membuatnya ingin mengutarakan
sesuatu, namun begitu sulit.
Annisa tidak mengerti akan perasaannya sendiri, yang
mendadak begitu rumit.
Sementara itu Radit hanya mampu menepuk bahu Annisa dan
mengucapkan salam terakhir pada sahabat
kecilnya itu.
“Nis, selamat jalan ya… Semoga kita bisa ketemu lagi.”
Annisa justru hanya mengangguk, dia tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Matanya mulai menggenang air mata.
“I don’t wanna say
good bye to you. See yah, Alfonso Raditya.”
Kata terakhir dari Annisa itu menutup pertemuan mereka.
***
Waktu bergulir sangat cepat. Radit tidak pernah menyangka
bahwa rumah yang berada disamping rumahnya itu kini sudah dihuni oleh orang lain.
Dulu gadis bernama Annisa, dengan lekuk alis indah akan selalu memanggilnya
dari balik tembok teras rumahnya.
Tapi kini Radit hanya bisa mengenang wajah Annisa.
Sesekali dia masih bisa memandangi foto-foto Annisa lewat akun facebooknya. Annisa akhir-akhir ini
tidak pernah online. Radit merasa kehilangan sekali. Biasanya dia masih bisa
mengejek Annisa lewat chat. Tapi beberapa hari ini Annisa benar-benar lenyap.
Seandainya Annisa memegang ponsel, pasti tidak akan
seperti ini kejadiannya. Annisa memang tidak diperbolehkan abinya untuk
memegang ponsel sendiri. Abinya benar-benar ingin mengawasi pergaulan Annisa.
Annisa pernah bilang bahwa setelah lulus SMA, Annisa akan diperbolehkan membawa
ponsel sendiri. Namun, sampai sekarang dia belum mendapatkan nomor ponsel
Annisa. Itu artinya Annisa belum membawa
ponsel sendiri sampai saat ini.
Radit
merasa bosan lalu iseng membuka emailnya. Tanpa diduga, Radit mandapat satu
email dari anisa_nisa@yahoo.com. Radit langsung antusias sekali membaca
email itu.
From : anisa_nisa@yahoo.com
Radiiiiiiiiiiit….
Radit jelek!
Jelek
pasti cariin aku kaaan… Hehe… Akhir-akhir ini aku sibuk nih. Kamu tebak dong
aku ngapain, Dit. ;p
Aku
mau pindah ke Jakarta, Dit. Akhirnya abi ijinin aku buat kuliah di Jakarta. Aku
diterima di UI, dit. Aku seneeeeng bangeeeet… Kita bisa sering-sering ketemu
kaya dulu lagi.
See
yah, Radit Jelek! ^^
Radit tersenyum lebar, matanya
bercahaya, Dia memandangi sekali lagi email dari Annisa, seolah tidak percaya.
Wajahnya berbinar. Kini dia bisa bertemu kembali dengan Annisa.
to be continued…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kalo kamu suka sama isi blog aku...
di-comment yaaa...
=D