Seven
Days Love
Part
2
Bandung pagi ini lumayan dingin. Ditemani secangkir kopi,
gue menghirup udara subuh di teras kosan. Suasana bener-bener damai, beda
banget ketika beranjak siang. Kalau gue masih ada di Solo, mungkin bakal lain
lagi ceritanya.
Hidup gue dulu enak dan serba mewah. Mobil ada, jabatan
mentereng, dan yang jelas masa depan cerah ada dalam genggaman gue. Semua yang
gue mau selalu ada dan selalu disiapin. Makan tinggal makan, minum tinggal
minum. Sekarang gue bener-bener merasa lain. Kalau mau makan harus cari atau
bikin sendiri. Kalau mau minum juga harus bikin sendiri, nggak ada lagi
pembantu yang bakal layanin gue. Tinggal di kosan emang udah sukses bikin gue
mandiri.
Gue nggak akan semenderita ini kalau saja si ‘bangsat’
itu nggak kecewain gue…
Air mata gue menetes…
***
Ponsel gue berdering. Seharusnya nggak ada yang telpon
gue jam segini. Ini kan jadwal gue berangkat kerja. Terpaksa deh telpon itu gue
terima.
Jantung gue berdegup kencang saat membaca nama yang
muncul di layar ponsel. The call is
coming from my mom. Tangan gue
gemeteran.
“Haloo…” Jawab gue sedikit takut.
“Nak, kamu udah makan belum? Bunda cemas mikirin kamu…”
“Udah, bunda… Sasha udah makan…”
“Makan sama apa tadi?” Tanya bunda dengan suaranya yang
lembut.
“Sasha makan sama telor ceplok bun…”
Tiba-tiba Bunda terdiam, tidak mengatakan apa-apa. Gue
bingung. Sesaat kemudian, terdengar suara isakan tangis dari seberang. Hatiku
teriris. Bunda menangis di telepon lagi dan lagi.
“Nak, kenapa kamu nggak pulang? Kamu pulang saja ke Solo,
kamu nggak perlu sarapan telor ceplok lagi. Bunda akan siapin makanan-makanan
enak kesukaan kamu untuk sarapan. Bunda kangen kamu… Kamu nggak pengen ketemu
bunda lagi? Kamu nggak kangen sama adik kamu, Nensi? Nensi sebentar lagi
melahirkan…”
Kata-kata yang terucap dari mulut bunda sungguh
belepotan, dikalahkan oleh tangis. Gue tercenung mendengar kata-kata bunda.
Maafin aku, bun…
“Nak, jawab bunda…” Rajuk bunda padaku.
Semakin mendengar suara bunda, hatiku semakin perih.
“Maafin Sasha, Bun…” Jawab gue dengan suara parau. Air
mata mulai menggenangi sudut mata gue.
“Sasha, untuk apa kamu ninggalin bunda dan hidup susah di
Bandung?”
Gue bener-bener nggak sanggup lagi menjawab pertanyaan
bunda. Gue sendiri bingung mau jawab apa. Air mata gue sudah tumpah ruah
memenuhi pipi.
Tit…Tit…
Terpaksa gue harus tutup telpon, karena gue nggak sanggup
dengar suara Bunda lagi. Karena semakin gue dengar suara bunda, gue jadi
semakin sedih. Ponsel pun gue matiin.
Maafin
aku, Bunda…
***
Ini
sudah pukul 1 siang. Gue menyusuri jalan menuju mall diiringi siulan dari para
ABG labil. Mereka menyiuli rok mini gue pastinya. Gue cuek bebek. Terserah apa
elo kata, yang penting gue nggak korupsi. SPG juga kerjaan yang halal.
Sambil
terus berjalan, gue coba buat membersihkan eyeliner
gue yang luntur pakai tisu. Gue memang paling nggak tahan denger suara bunda.
Bukan karena gue benci sama bunda, tapi karena gue kangen setengah mati sama
bunda. Gue mendadak jadi mallow tiap
denger suara bunda.
Akhirnya
sampai juga, Pak Satpam udah melempar senyum ke gue. Gue segera isi absen dan
masuk ke lokasi kerja gue.
Sesampainya
di lokasi, gue udah disambut Nina.
“Hei,
tumben banget elo agak telat, Sha.”
“Iya
nih, gue tadi ketiduran di kos. Hehe…” Jawab gue ngaco.
“Eh,
eyeliner elo kenapa tuh?”
“Ini
ya? Kena air wudhu, Na. Hehe.” Lagi-lagi gue bohong. Gue emang sholat, tapi itu
sebelum gue pake make-up.
“Elo
sih… Sholatnya sebelum pake make-up
napa?”
“Tadi
kelupaan, Na. Gue kan buru-buru bangun tidur.”
“Benerin
dulu sana, ntar dimarahin sama atasan.”
“Siap
bos!” Nina langsung tertawa dan mencubit lengan gue, saat gue belagak hormat ke
dia. Gue pun langsung ngacir ke toilet.
***
Keluar
dari toilet, gue dikagetin sama kemunculan seseorang. Gila ya, dunia berasa
sempit banget. Atau emang cuma orang itu-itu saja yang hadir di hidup gue. Niat
gue mau melipir gitu dan pura-pura nggak lihat. Dasar nasib lagi sial, orang
itu malah panggil nama gue.
“Sasha!
Elo Sasha kan?”
“Heh,
elo lagi!” Respon gue cuek.
“Haha,
kalo ketemu satu kali atau dua kali namanya kebetulan, tapi kalo udah yang
ketiga kalinya gini namanya apa dong.” Ujar cowok itu ke-pedean.
“Namanya
SIAL!” Jawab gue jutek.
Gue
langsung ngacir ninggalin cowok itu. Kayak biasanya cowok itu ngintilin gue di
belakang. Gue tahu, gue emang cantik. Tapi nggak gini juga caranya. Please deh, masak cowok secakep dia
juga nggak laku. Pasti cewek laen banyak yang mau, apalagi diliat dari
penampilannya kayaknya potongan orang kaya.
“Elo
ngapain sih disini mulu dari kemaren! Nggak ada mall laen apa!” Umpat gue.
Sementara cowok itu tetep pede jalan
“Gue
tahu, elo kerja disini. Makanya gue kesini lagi.”
“Apa?
Gue nggak ada waktu buat ngobrol sama elo. Gue mau kerja! BYE!”
Gue
mempercepat langkah kaki gue, setengah berlari. Sumpah, gue agak merasa
terancam sama cowok itu. Dia bakat banget nyelidikin orang. Apalagi gue masih
agak alergi berurusan sama cowok.
***
“Hiiiih,
dia lagi dia lagi….”
“Elo
kenapa sih, Sha?” Nina keheranan lihat gue yang datang-datang dari toilet
langsung ngedumel nggak jelas.
“Haha,
nggak apa-apa kok, Na. Oh iya, tadi Mas Anjar udah kesini belom?” Gue mencoba
mengalihkan pembicaraan. Mas Anjar itu pengawas marketing, yang biasanya
ngawasin kerja para SPG.
“Belom,
Sha.”
“Moga-moga
aja nggak kesini…”
“Kok
elo ngomongnya gitu.”
“Gue
males aja, Na kalo diajakin makan siang lagi.”
“Kenapa
males? Bukannya seneng.”
“Gue
risih, gue emang dapetin kerjaan di tempat ini karena bantuan dia, tapi gue
nggak harus balas budi dengan cara kayak gitu juga kan?”
Mas
Anjar adalah orang yang ngasih gue kerjaan di mall ini sebagai SPG. Maklum umur
gue emang sudah melewati ambang batas
untuk menjadi seorang SPG. Tahun ini aja umur gue bakal memasuki 26
tahun. Jadi tanpa bantuan Mas Anjar, sudah bisa dipastikan gue nggak bisa kerja
sebagai SPG di tempat ini.
“Iya
gue ngerti perasaan elo, Sha. Udah nggak usah dipikirin. Semangaaaaat!”
“Iya,
semangaaat! Hehe..”
Gue
dan Sasha pun menempatkan diri di lokasi yang terpisah, tujuannya biar dapet
customer yang lebih banyak pastinya.
***
Gue
berdiri diantara kerumunan orang-orang selama satu jam lebih. Belum satu orang
pun yang menghampiri gue, walaupun cuma untuk sekedar tanya-tanya. Kaki gue
pegal, gue berputar mencari tempat yang sekiranya bisa untuk duduk sebentar.
Akhirnya gue menemukan tempat duduk. Lumayan gue bisa selonjoran sebentar.
Baru beberapa detik gue duduk, gue sadar sesuatu. Gue
duduk tepat di depan etalase toko perhiasan. Gue lalu berusaha bertahan di
tempat itu dan mencoba positive thinking.
Gue mencoba mengalihkan pandangan dari kaca toko tersebut dan melihat-lihat ke
arah lain.
Namun,
entah kenapa gue justru menatap sendu etalase toko itu. Sepasang cowok cewek
terlihat dari kaca. Mereka saling bertatapan penuh cinta, sesekali tertawa
bahagia. Mereka berdua lalu saling memakaikan cincin di jari manis satu sama
lain. Gue menunduk. Mendadak hati gue perih. Semua bayang-bayang kelam masa
lalu detik ini kembali menguasai hati gue.
Pemandangan
indah seperti itu, tidak akan pernah lagi terjadi dalam hidupku. Semua janji
manis itu hanya fatamorgana. Diucapkan oleh seorang laki-laki bangsat, yang
tidak pernah mengerti perasaan perempuan kesakitan seperti gue. Hati gue sakit.
Semua harapan-harapan gue seperti pusaran air yang tertelan ombak. Begitu kuat,
namun lenyap dikalahkan oleh rasa kecewa. Gue dicampakkan seperti sampah. Dia
nggak menghargai perasaan yang sudah gue tabur selama bertahun-tahun hanya
untuknya. Gue menangisi diri gue sendiri. Si cantik dan si sempurna Sasha telah
dikalahkan oleh seorang laki-laki biadab.
Benar
sekali, saat itu cinta telah mengalahkan gue.
Air
mata meleleh begitu saja. Gue sudah lelah menyembunyikan air mata gue dan
menampakkan senyum palsu di wajah. Semua rasa sakit itu tiba-tiba tumpah. Detik
ini juga gue mengangis deras. Sudah coba gue tahan, tapi ini benar-benar sulit.
“Tunggu aku setahun lagi dek… Aku
akan menikahi kamu.”
Itu
yang diucapkan laki-laki bangsat itu, saat memakaikan cincin di hari
pertunanganku. Betapa sakitnya,
mengingat kata-kata itu. Setidaknya dia tidak perlu berjanji untuk menikahi
gue.
Gue
pun berlari menuju toilet…
***
“Sasha!”
Sial,
cowok itu memanggil gue. Kenapa disaat gue berlumuran air mata, cowok itu
justru lihat gue. Tapi gue tetep berlari menuju toilet. Gue nggak peduli sama
cowok itu.
Cowok
itu mengejar gue, gue pun berlari semakin kencang. Kenapa di saat-saat begini,
toilet justru terasa jauh. Gue lelah, akhirnya gue membersihkan pipi dengan
telapak tangan gue dan membiarkan cowok itu menghampiri gue.
“Elo
kenapa?” Cowok itu bertanya sambil menyentuh dagu gue.
“Gue
nggak kenapa-napa, nggak ada urusannya sama elo.” Gue mencoba mengalihkan
pandangan karena gue takut menatap mata cowok itu.
“Elo
udah ketahuan nangis juga, pura-pura kuat lagi. Dasar cewek keras kepala!”
“Eh,
elo tuh siapa sih? Apa urusan elo? Gue juga nggak kenal sama elo. Gue juga baru
kemaren lihat elo. Nggak usah sok-sok komentarin gue deh!”
Gue
pun meninggalkan cowok itu, sialnya cowok itu tiba-tiba menarik tangan gue,
“Ikut gue.”
“Apa-apaan
sih elo, lancang banget.”
Cowok
itu menggandeng tangan gue erat, semakin gue mencoba lepasin tangan gue,
genggamannya malah semakin erat. Gue pasrah. Kaki gue menurut saja kemana cowok
itu melangkah. Kita berdua memasuki lift, dan saat keluar dari lift gue
terkejut. Gue dan cowok itu berada di lantai paling atas gedung mall.
Angin
begitu kencang menerpa rambut gue. Gue berjalan menuju tepian dan melihat ke
bawah. Di bawah terlihat pemandangan lalu lalang kendaraan yang ramai. Gue
merasa sedikit tenang dan detik itu juga, gue merasa ingin lompat dari atas
gedung itu, dan semua masalah akan pergi bersama roh gue.
Namun,
cowok itu menepuk bahu gue.
“Gue
ngajakin elo kesini bukan untuk nyuruh elo lompat.” Ucap cowok itu dengan
sedikit senyum di wajahnya.
Sial!
Dia bisa baca pikiran gue.
“Sok
tahu elo! Siapa yang mau lompat?” Gue mengelak.
“Gue
bukan bocah ingusan yang bisa elo boongin. Saat seseorang lagi banyak masalah
dan mereka melihat jurang di depan mereka, satu-satunya yang mereka pikirin
adalah lompat ke jurang itu. Mereka pikir dengan lompat ke jurang itu semua
masalah akan selesai. Mereka juga berpikir bahwa masalah harus dihindari, dan
itu salah besar. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan. Sebesar apapun
masalah hidup kita, kita nggak boleh lari. Tetap kuat, semangat, dan hadapi.
Betul kan, Sha?”
Gue
mengangguk dan tersenyum mendengar kata-kata itu. Entah kenapa setiap kata yang
meluncur dari bibir cowok itu membawa ketenangan buat gue. Detik itu juga, gue
merasa lain. Gue merasa gue nggak perlu alergi sama cowok yang satu ini.
Sepertinya dia lain.
“Hei
cowok aneh, siapa sih nama elo?”
“Akhirnya
elo tanya juga nama gue. Elo panggil aja gue Toro.”
“Ooo,
jadi nama elo Toro…”
“Iya,
gimana elo udah agak lega sekarang?”
Gue
menggeleng.
“Elo
teriak aja sekenceng-kencengnya. Itu bakal bikin elo lega.”
“Teriak
disini?”
“Iya
lah.”
Gue
pun menarik nafas panjang dan berteriak sangat kencang. Gue berteriak seolah
olah nggak ada siapa-siapa di deket gue, termasuk cowok itu. Gedung mall juga lumayan
tinggi, dan cukup buat meredam suara gue. Bukan cuma sekali atau dua kali gue
berteriak, tapi berkali-kali. Gue lega…
Thanks Toro…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kalo kamu suka sama isi blog aku...
di-comment yaaa...
=D