Selasa, 22 Mei 2012

Seven Days Love - Part 2


Seven Days Love
Part 2

            Bandung pagi ini lumayan dingin. Ditemani secangkir kopi, gue menghirup udara subuh di teras kosan. Suasana bener-bener damai, beda banget ketika beranjak siang. Kalau gue masih ada di Solo, mungkin bakal lain lagi ceritanya.

            Hidup gue dulu enak dan serba mewah. Mobil ada, jabatan mentereng, dan yang jelas masa depan cerah ada dalam genggaman gue. Semua yang gue mau selalu ada dan selalu disiapin. Makan tinggal makan, minum tinggal minum. Sekarang gue bener-bener merasa lain. Kalau mau makan harus cari atau bikin sendiri. Kalau mau minum juga harus bikin sendiri, nggak ada lagi pembantu yang bakal layanin gue. Tinggal di kosan emang udah sukses bikin gue mandiri. 

            Gue nggak akan semenderita ini kalau saja si ‘bangsat’ itu nggak kecewain gue…

            Air mata gue menetes…
***

            Ponsel gue berdering. Seharusnya nggak ada yang telpon gue jam segini. Ini kan jadwal gue berangkat kerja. Terpaksa deh telpon itu gue terima.

            Jantung gue berdegup kencang saat membaca nama yang muncul di layar ponsel. The call is coming  from my mom. Tangan gue gemeteran.

            “Haloo…” Jawab gue sedikit takut.
            “Nak, kamu udah makan belum? Bunda cemas mikirin kamu…”
            “Udah, bunda… Sasha udah makan…”
            “Makan sama apa tadi?” Tanya bunda dengan suaranya yang lembut.
            “Sasha makan sama telor ceplok bun…”

            Tiba-tiba Bunda terdiam, tidak mengatakan apa-apa. Gue bingung. Sesaat kemudian, terdengar suara isakan tangis dari seberang. Hatiku teriris. Bunda menangis di telepon lagi dan lagi.

            “Nak, kenapa kamu nggak pulang? Kamu pulang saja ke Solo, kamu nggak perlu sarapan telor ceplok lagi. Bunda akan siapin makanan-makanan enak kesukaan kamu untuk sarapan. Bunda kangen kamu… Kamu nggak pengen ketemu bunda lagi? Kamu nggak kangen sama adik kamu, Nensi? Nensi sebentar lagi melahirkan…”
            Kata-kata yang terucap dari mulut bunda sungguh belepotan, dikalahkan oleh tangis. Gue tercenung mendengar kata-kata bunda. Maafin aku, bun…
            “Nak, jawab bunda…” Rajuk bunda padaku.
            Semakin mendengar suara bunda, hatiku semakin perih.
            “Maafin Sasha, Bun…” Jawab gue dengan suara parau. Air mata mulai menggenangi sudut mata gue.
            “Sasha, untuk apa kamu ninggalin bunda dan hidup susah di Bandung?”

            Gue bener-bener nggak sanggup lagi menjawab pertanyaan bunda. Gue sendiri bingung mau jawab apa. Air mata gue sudah tumpah ruah memenuhi pipi. 

            Tit…Tit…

            Terpaksa gue harus tutup telpon, karena gue nggak sanggup dengar suara Bunda lagi. Karena semakin gue dengar suara bunda, gue jadi semakin sedih. Ponsel pun gue matiin. 

Maafin aku, Bunda…
***
Ini sudah pukul 1 siang. Gue menyusuri jalan menuju mall diiringi siulan dari para ABG labil. Mereka menyiuli rok mini gue pastinya. Gue cuek bebek. Terserah apa elo kata, yang penting gue nggak korupsi. SPG juga kerjaan yang halal.

Sambil terus berjalan, gue coba buat membersihkan eyeliner gue yang luntur pakai tisu. Gue memang paling nggak tahan denger suara bunda. Bukan karena gue benci sama bunda, tapi karena gue kangen setengah mati sama bunda. Gue mendadak jadi mallow tiap denger suara bunda. 

Akhirnya sampai juga, Pak Satpam udah melempar senyum ke gue. Gue segera isi absen dan masuk ke lokasi kerja gue.
Sesampainya di lokasi, gue udah disambut Nina.
“Hei, tumben banget elo agak telat, Sha.”
“Iya nih, gue tadi ketiduran di kos. Hehe…” Jawab gue ngaco.
“Eh, eyeliner elo kenapa tuh?”
“Ini ya? Kena air wudhu, Na. Hehe.” Lagi-lagi gue bohong. Gue emang sholat, tapi itu sebelum gue pake make-up.
“Elo sih… Sholatnya sebelum pake make-up napa?”
“Tadi kelupaan, Na. Gue kan buru-buru bangun tidur.”
“Benerin dulu sana, ntar dimarahin sama atasan.”
“Siap bos!” Nina langsung tertawa dan mencubit lengan gue, saat gue belagak hormat ke dia. Gue pun langsung ngacir ke toilet.

***
Keluar dari toilet, gue dikagetin sama kemunculan seseorang. Gila ya, dunia berasa sempit banget. Atau emang cuma orang itu-itu saja yang hadir di hidup gue. Niat gue mau melipir gitu dan pura-pura nggak lihat. Dasar nasib lagi sial, orang itu malah panggil nama gue. 

“Sasha! Elo Sasha kan?”
“Heh, elo lagi!” Respon gue cuek.
“Haha, kalo ketemu satu kali atau dua kali namanya kebetulan, tapi kalo udah yang ketiga kalinya gini namanya apa dong.” Ujar cowok itu ke-pedean.
“Namanya SIAL!” Jawab gue jutek.
Gue langsung ngacir ninggalin cowok itu. Kayak biasanya cowok itu ngintilin gue di belakang. Gue tahu, gue emang cantik. Tapi nggak gini juga caranya. Please deh, masak cowok secakep dia juga nggak laku. Pasti cewek laen banyak yang mau, apalagi diliat dari penampilannya kayaknya potongan orang kaya.
“Elo ngapain sih disini mulu dari kemaren! Nggak ada mall laen apa!” Umpat gue. Sementara cowok itu tetep pede jalan
“Gue tahu, elo kerja disini. Makanya gue kesini lagi.”
“Apa? Gue nggak ada waktu buat ngobrol sama elo. Gue mau kerja! BYE!”
Gue mempercepat langkah kaki gue, setengah berlari. Sumpah, gue agak merasa terancam sama cowok itu. Dia bakat banget nyelidikin orang. Apalagi gue masih agak alergi berurusan sama cowok.
***
“Hiiiih, dia lagi dia lagi….”
“Elo kenapa sih, Sha?” Nina keheranan lihat gue yang datang-datang dari toilet langsung ngedumel nggak jelas.
“Haha, nggak apa-apa kok, Na. Oh iya, tadi Mas Anjar udah kesini belom?” Gue mencoba mengalihkan pembicaraan. Mas Anjar itu pengawas marketing, yang biasanya ngawasin kerja para SPG.
“Belom, Sha.”
“Moga-moga aja nggak kesini…”
“Kok elo ngomongnya gitu.”
“Gue males aja, Na kalo diajakin makan siang lagi.”
“Kenapa males? Bukannya seneng.”
“Gue risih, gue emang dapetin kerjaan di tempat ini karena bantuan dia, tapi gue nggak harus balas budi dengan cara kayak gitu juga kan?”

Mas Anjar adalah orang yang ngasih gue kerjaan di mall ini sebagai SPG. Maklum umur gue emang sudah melewati ambang batas  untuk menjadi seorang SPG. Tahun ini aja umur gue bakal memasuki 26 tahun. Jadi tanpa bantuan Mas Anjar, sudah bisa dipastikan gue nggak bisa kerja sebagai SPG di tempat ini.
“Iya gue ngerti perasaan elo, Sha. Udah nggak usah dipikirin. Semangaaaaat!”
“Iya, semangaaat! Hehe..”
Gue dan Sasha pun menempatkan diri di lokasi yang terpisah, tujuannya biar dapet customer yang lebih banyak pastinya.
***
Gue berdiri diantara kerumunan orang-orang selama satu jam lebih. Belum satu orang pun yang menghampiri gue, walaupun cuma untuk sekedar tanya-tanya. Kaki gue pegal, gue berputar mencari tempat yang sekiranya bisa untuk duduk sebentar. Akhirnya gue menemukan tempat duduk. Lumayan gue bisa selonjoran sebentar. 

            Baru beberapa detik gue duduk, gue sadar sesuatu. Gue duduk tepat di depan etalase toko perhiasan. Gue lalu berusaha bertahan di tempat itu dan mencoba positive thinking. Gue mencoba mengalihkan pandangan dari kaca toko tersebut dan melihat-lihat ke arah lain. 

Namun, entah kenapa gue justru menatap sendu etalase toko itu. Sepasang cowok cewek terlihat dari kaca. Mereka saling bertatapan penuh cinta, sesekali tertawa bahagia. Mereka berdua lalu saling memakaikan cincin di jari manis satu sama lain. Gue menunduk. Mendadak hati gue perih. Semua bayang-bayang kelam masa lalu detik ini kembali menguasai hati gue. 

Pemandangan indah seperti itu, tidak akan pernah lagi terjadi dalam hidupku. Semua janji manis itu hanya fatamorgana. Diucapkan oleh seorang laki-laki bangsat, yang tidak pernah mengerti perasaan perempuan kesakitan seperti gue. Hati gue sakit. Semua harapan-harapan gue seperti pusaran air yang tertelan ombak. Begitu kuat, namun lenyap dikalahkan oleh rasa kecewa. Gue dicampakkan seperti sampah. Dia nggak menghargai perasaan yang sudah gue tabur selama bertahun-tahun hanya untuknya. Gue menangisi diri gue sendiri. Si cantik dan si sempurna Sasha telah dikalahkan oleh seorang laki-laki biadab.

Benar sekali, saat itu cinta telah mengalahkan gue.

Air mata meleleh begitu saja. Gue sudah lelah menyembunyikan air mata gue dan menampakkan senyum palsu di wajah. Semua rasa sakit itu tiba-tiba tumpah. Detik ini juga gue mengangis deras. Sudah coba gue tahan, tapi ini benar-benar sulit.

“Tunggu aku setahun lagi dek… Aku akan menikahi kamu.”

Itu yang diucapkan laki-laki bangsat itu, saat memakaikan cincin di hari pertunanganku.  Betapa sakitnya, mengingat kata-kata itu. Setidaknya dia tidak perlu berjanji untuk menikahi gue.

Gue pun berlari menuju toilet…
***
“Sasha!”
Sial, cowok itu memanggil gue. Kenapa disaat gue berlumuran air mata, cowok itu justru lihat gue. Tapi gue tetep berlari menuju toilet. Gue nggak peduli sama cowok itu.

Cowok itu mengejar gue, gue pun berlari semakin kencang. Kenapa di saat-saat begini, toilet justru terasa jauh. Gue lelah, akhirnya gue membersihkan pipi dengan telapak tangan gue dan membiarkan cowok itu menghampiri gue.
“Elo kenapa?” Cowok itu bertanya sambil menyentuh dagu gue.
“Gue nggak kenapa-napa, nggak ada urusannya sama elo.” Gue mencoba mengalihkan pandangan karena gue takut menatap mata cowok itu.
“Elo udah ketahuan nangis juga, pura-pura kuat lagi. Dasar cewek keras kepala!”
“Eh, elo tuh siapa sih? Apa urusan elo? Gue juga nggak kenal sama elo. Gue juga baru kemaren lihat elo. Nggak usah sok-sok komentarin gue deh!”
Gue pun meninggalkan cowok itu, sialnya cowok itu tiba-tiba menarik tangan gue, “Ikut gue.”
“Apa-apaan sih elo, lancang banget.”

Cowok itu menggandeng tangan gue erat, semakin gue mencoba lepasin tangan gue, genggamannya malah semakin erat. Gue pasrah. Kaki gue menurut saja kemana cowok itu melangkah. Kita berdua memasuki lift, dan saat keluar dari lift gue terkejut. Gue dan cowok itu berada di lantai paling atas gedung mall. 

Angin begitu kencang menerpa rambut gue. Gue berjalan menuju tepian dan melihat ke bawah. Di bawah terlihat pemandangan lalu lalang kendaraan yang ramai. Gue merasa sedikit tenang dan detik itu juga, gue merasa ingin lompat dari atas gedung itu, dan semua masalah akan pergi bersama roh gue.

Namun, cowok itu menepuk bahu gue.

“Gue ngajakin elo kesini bukan untuk nyuruh elo lompat.” Ucap cowok itu dengan sedikit senyum di wajahnya.
Sial! Dia bisa baca pikiran gue.
“Sok tahu elo! Siapa yang mau lompat?” Gue mengelak.
“Gue bukan bocah ingusan yang bisa elo boongin. Saat seseorang lagi banyak masalah dan mereka melihat jurang di depan mereka, satu-satunya yang mereka pikirin adalah lompat ke jurang itu. Mereka pikir dengan lompat ke jurang itu semua masalah akan selesai. Mereka juga berpikir bahwa masalah harus dihindari, dan itu salah besar. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan. Sebesar apapun masalah hidup kita, kita nggak boleh lari. Tetap kuat, semangat, dan hadapi. Betul kan, Sha?”

Gue mengangguk dan tersenyum mendengar kata-kata itu. Entah kenapa setiap kata yang meluncur dari bibir cowok itu membawa ketenangan buat gue. Detik itu juga, gue merasa lain. Gue merasa gue nggak perlu alergi sama cowok yang satu ini. Sepertinya dia lain.
“Hei cowok aneh, siapa sih nama elo?”
“Akhirnya elo tanya juga nama gue. Elo panggil aja gue Toro.”
“Ooo, jadi nama elo Toro…”
“Iya, gimana elo udah agak lega sekarang?”
Gue menggeleng.
“Elo teriak aja sekenceng-kencengnya. Itu bakal bikin elo lega.”
“Teriak disini?”
“Iya lah.”

Gue pun menarik nafas panjang dan berteriak sangat kencang. Gue berteriak seolah olah nggak ada siapa-siapa di deket gue, termasuk cowok itu. Gedung mall juga lumayan tinggi, dan cukup buat meredam suara gue. Bukan cuma sekali atau dua kali gue berteriak, tapi berkali-kali. Gue lega…
Thanks Toro…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kalo kamu suka sama isi blog aku...
di-comment yaaa...

=D