Senin, 21 Mei 2012

Seven Days Love - Part 3


Seven Days Love
Part 3

Dua hari ini, gue selalu bertemu sama Toro. Bisa dibilang dia cowok pertama yang deket sama gue sejak gue pindah ke Bandung. Gue nyaman banget sama Toro, kita berdua nyambung banget. Gue hampir nggak percaya sama kedekatan gue sendiri sama Toro. Disaat semua kepercayaan gue sama cowok luntur, tiba-tiba datanglah Toro yang mengubah cara pandang gue tentang cowok.
Jam tangan gue sudah menunjukkan pukul 22.00, sementara gue masih nongkrong bersama Toro di salah satu sudut kaki lima. Sambil menikmati secangkir susu jahe yang hangat, kami berdua mengobrol ringan.
“Bandung emang kota yang yang nggak pernah mati…” Celetuk Toro.
“Bukannya Jakarta juga gitu.”
“Hmm… Iya bener banget, tapi suasana yang kayak gini tetep nggak bisa kebeli.”
“Suasana gimana maksud elo?”
“Gimana ya ngejelasinnya, atmosfirnya tuh beda. Elo dari mana sih?”
“Asal gue dari Solo.”
“Nah, coba elo rasain bedanya atmosfir Solo sama Bandung. Pasti ada sesuatu yang lain dan unik dari Bandung.”
Gue mencoba memikirkan apa yang Toro maksud, tapi gue tetep nggak ngerti. Mungkin karena history kepindahan gue ke Bandung yang menyakitkan. Dengan begonya, gue menggeleng-gelengkan kepala, dan Toro menertawai gue.
“Nggak lucu, tauk!” Ujar gue sedikit manyun.
“Haha, gue jadi curiga…”
“Curiga apa?” Denger komentar Toro, gue langsung melotot. Takutnya jurus detektif Toro keluar lagi secara tiba-tiba. Hmm…
“Sebenernya apa sih motif elo pindah ke Bandung?”
DEG! Bener kan apa yang gue pikirin. Jurus detektif Toro muncul lagi. Kenapa Toro tanya soal itu ke gue? Mati gue. Gue mesti jawab apa. Gue nggak mungkin cerita semuanya ke Toro. Gue mungkin aja cerita ke dia, tapi gue juga baru kenal sama dia.
Gue terdiam, bola mata gue berusaha berputar untuk menatap objek lain. Gue nggak mau Toro ngeliat mata gue dan gue ketahuan sembunyiin sesuatu.
“Heh, jawaab…” Rajuk Toro.
“Guee ke Bandung cari kerjaan laah, apalagi coba…” Jawab gue penuh kebohongan.
“Potongan orang kaya kayak elo ke Bandung cari kerjaan?”
“Hah? Potongan orang kaya dari mana?” Gue ngeles.
“Elo tuh tukang ngeles ya.”
Gue cuma bisa nyengir dan mencubit tangan Toro. Toro kesakitan. Toro memang sok tahu, tapi gue heran kenapa yang dia bilang selalu bener. Hebatnya, dengan satu cubitan Toro berhenti menyelidiki gue lagi. Pertanyaan-pertanyaan dari Toro kadang penuh kejutan dan kadang sukses bikin gue mati gaya.
***

Malam semakin larut dan gue semakin tenggelam dalam canda-canda gue bersama Toro. Gue tertawa lepas malam ini. Angin membawa pergi gaung-gaung tawa ceria yang keluar dari mulut gue. Kalau Toro tadi bicara tentang atmosfir kota Bandung, gue malah baru merasakan atmosfir yang beda ketika bersama dia.
Saat gue berhenti tertawa dan menatap matanya, gue ingat kutipan artikel di salah satu majalah. Majalah itu bilang bahwa elo akan lebih nyaman curhat sama orang yang baru elo kenal daripada curhat sama orang yang elo kenal. Diam-diam gue jadi pengen meluapkan semua perasaan gue ke Toro, tapi apa yang akan Toro katakan tentang masa lalu gue yang pahit itu.
Oh no! Gue menggigit bibir.
“Elo kenapa sih?” Toro menangkap ekspresi aneh di wajah gue saat menatapnya.
Gue menggeleng-gelengkan kepala.
“Elo pasti mau cerita sesuatu kan?”
“Hmm…” Gue malah menggumam.
By the way, umur elo berapa sih?”
“Kenapa tiba-tiba  jadi tanya umur sih?” Protes gue.
“Nggak ada masalah kan?”
Gue capek mesti bohong terus, mending gue ngaku aja sama Toro. Minimal hati gue jadi lebih lega.
“Tahun ini umur gue masuk 26 tahun?”
Toro melotot seketika, ekspresinya benar-benar membuat gue takut.
“26 tahun masih bisa jadi SPG?” Tanya Toro menciutkan hati gue.
Gue hanya bisa mengangguk-angguk.
“Sebenernya elo kenapa sih? Kayaknya ada yang elo pendam, elo cerita aja ke gue… Meskipun kita baru kenal, tapi gue temen elo kan…”
“Gue sebenernya males buat cerita, karena itu sama aja mengungkit luka lama.”
“Sha, semua orang di dunia ini nggak pernah bisa melupakan masa lalunya, tapi mereka bisa melewatinya.”
Gue tersenyum, lagi-lagi Toro mengeluarkan kata-kata ampuhnya untuk memotivasi gue.
“Hmm, okelah gue nyerah, gue bakal cerita semuanya ke elo.”
Toro tersenyum, “Sip, gue siap denger semuanya.”
“Gue emang banyak masalah di Solo, Tor. Gue gagal nikah. Pacar yang berhubungan sama gue selama  dua tahun ternyata udah punya istri. Gara-gara itu papa gue syok, strokenya mendadak kumat dan meninggal dunia. Gue merasa hidup gue hancur. Satu tahun kemudian, adik gue dilamar dan menikah sama pacarnya. Perasaan gue semakin sakit, Tor. Gue bukannya iri melihat adek gue menikah duluan. Gue ikhlas, tapi elo tahu gue bener-bener kesepian saat adek gue nggak lagi serumah sama gue karena harus ikut suaminya. Sejak itu, gue memutuskan untuk pergi dari Solo dan berusaha melupakan semua kenangan pahit gue. Gue ninggalin bunda dan kerjaan gue. Hmm… Tapi pada kenyataannya semua kenangan pahit itu tetap ikut bersama gue.”
Toro terdiam.
“Gue nggak pernah yakin Tor, bahwa di dunia ini masih ada cowok baik-baik. Dalam pikiran gue, semua cowok itu baj*ngan. Elo bisa bayangin kan betapa sakitya. Orang yang elo sayangi dan jalan bersama elo selama dua tahun itu ternyata adalah suami orang. Itu bener-bener mengerikan, Tor. Oh, what a pity me…”
Toro menatap gue dengan sendu. Gue tertunduk lesu dan menahan mati-matian air mata yang hampir terjatuh.
“Gue ini bener-bener bego, Tor. Bisa-bisanya gue tunangan sama suami orang. Investasi yang gue tanam sama baj*ngan itu selama bertahun-tahun juga ikut menghilang. Gue kehilangan uang puluhan juta dengan baj*ngan itu. Dia nggak pernah meminta maaf dan pergi begitu saja… Baj*ngan itu udah bikin hidup gue hancur. Gue bener-bener merasa bersalah atas kepergian papa, Tor… Seandainya gue nggak kenal baj*ngan itu, papa pasti masih ada di samping gue.”
Air mata yang mati-matian gue tahan, lolos juga akhirnya. Begitu deras dan membanjiri pipi gue. Gue membenamkan wajah gue di meja. Toro mengelus-elus pundak gue.



“Nangis aja Sha, kalau itu bisa bikin perasaan elo lega…”
Ya, gue bener-bener jadi lega saat ini. Thanks a lot, Toro…

To be continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kalo kamu suka sama isi blog aku...
di-comment yaaa...

=D