Seven
Days Love
Part
3
Dua
hari ini, gue selalu bertemu sama Toro. Bisa dibilang dia cowok pertama yang
deket sama gue sejak gue pindah ke Bandung. Gue nyaman banget sama Toro, kita
berdua nyambung banget. Gue hampir nggak percaya sama kedekatan gue sendiri
sama Toro. Disaat semua kepercayaan gue sama cowok luntur, tiba-tiba datanglah
Toro yang mengubah cara pandang gue tentang cowok.
Jam
tangan gue sudah menunjukkan pukul 22.00, sementara gue masih nongkrong bersama
Toro di salah satu sudut kaki lima. Sambil menikmati secangkir susu jahe yang
hangat, kami berdua mengobrol ringan.
“Bandung
emang kota yang yang nggak pernah mati…” Celetuk Toro.
“Bukannya
Jakarta juga gitu.”
“Hmm…
Iya bener banget, tapi suasana yang kayak gini tetep nggak bisa kebeli.”
“Suasana
gimana maksud elo?”
“Gimana
ya ngejelasinnya, atmosfirnya tuh beda. Elo dari mana sih?”
“Asal
gue dari Solo.”
“Nah,
coba elo rasain bedanya atmosfir Solo sama Bandung. Pasti ada sesuatu yang lain
dan unik dari Bandung.”
Gue
mencoba memikirkan apa yang Toro maksud, tapi gue tetep nggak ngerti. Mungkin
karena history kepindahan gue ke
Bandung yang menyakitkan. Dengan begonya, gue menggeleng-gelengkan kepala, dan
Toro menertawai gue.
“Nggak
lucu, tauk!” Ujar gue sedikit manyun.
“Haha,
gue jadi curiga…”
“Curiga
apa?” Denger komentar Toro, gue langsung melotot. Takutnya jurus detektif Toro
keluar lagi secara tiba-tiba. Hmm…
“Sebenernya
apa sih motif elo pindah ke Bandung?”
DEG!
Bener kan apa yang gue pikirin. Jurus detektif Toro muncul lagi. Kenapa Toro tanya
soal itu ke gue? Mati gue. Gue mesti jawab apa. Gue nggak mungkin cerita
semuanya ke Toro. Gue mungkin aja cerita ke dia, tapi gue juga baru kenal sama
dia.
Gue
terdiam, bola mata gue berusaha berputar untuk menatap objek lain. Gue nggak
mau Toro ngeliat mata gue dan gue ketahuan sembunyiin sesuatu.
“Heh,
jawaab…” Rajuk Toro.
“Guee
ke Bandung cari kerjaan laah, apalagi coba…” Jawab gue penuh kebohongan.
“Potongan
orang kaya kayak elo ke Bandung cari kerjaan?”
“Hah?
Potongan orang kaya dari mana?” Gue ngeles.
“Elo
tuh tukang ngeles ya.”
Gue
cuma bisa nyengir dan mencubit tangan Toro. Toro kesakitan. Toro memang sok
tahu, tapi gue heran kenapa yang dia bilang selalu bener. Hebatnya, dengan satu
cubitan Toro berhenti menyelidiki gue lagi. Pertanyaan-pertanyaan dari Toro
kadang penuh kejutan dan kadang sukses bikin gue mati gaya.
***
Malam
semakin larut dan gue semakin tenggelam dalam canda-canda gue bersama Toro. Gue
tertawa lepas malam ini. Angin membawa pergi gaung-gaung tawa ceria yang keluar
dari mulut gue. Kalau Toro tadi bicara tentang atmosfir kota Bandung, gue malah
baru merasakan atmosfir yang beda ketika bersama dia.
Saat
gue berhenti tertawa dan menatap matanya, gue ingat kutipan artikel di salah
satu majalah. Majalah itu bilang bahwa elo akan lebih nyaman curhat sama orang
yang baru elo kenal daripada curhat sama orang yang elo kenal. Diam-diam gue
jadi pengen meluapkan semua perasaan gue ke Toro, tapi apa yang akan Toro
katakan tentang masa lalu gue yang pahit itu.
Oh no!
Gue menggigit bibir.
“Elo
kenapa sih?” Toro menangkap ekspresi aneh di wajah gue saat menatapnya.
Gue
menggeleng-gelengkan kepala.
“Elo
pasti mau cerita sesuatu kan?”
“Hmm…”
Gue malah menggumam.
“By the way, umur elo berapa sih?”
“Kenapa
tiba-tiba jadi tanya umur sih?” Protes
gue.
“Nggak
ada masalah kan?”
Gue
capek mesti bohong terus, mending gue ngaku aja sama Toro. Minimal hati gue
jadi lebih lega.
“Tahun
ini umur gue masuk 26 tahun?”
Toro
melotot seketika, ekspresinya benar-benar membuat gue takut.
“26
tahun masih bisa jadi SPG?” Tanya Toro menciutkan hati gue.
Gue
hanya bisa mengangguk-angguk.
“Sebenernya
elo kenapa sih? Kayaknya ada yang elo pendam, elo cerita aja ke gue… Meskipun
kita baru kenal, tapi gue temen elo kan…”
“Gue
sebenernya males buat cerita, karena itu sama aja mengungkit luka lama.”
“Sha,
semua orang di dunia ini nggak pernah bisa melupakan masa lalunya, tapi mereka
bisa melewatinya.”
Gue
tersenyum, lagi-lagi Toro mengeluarkan kata-kata ampuhnya untuk memotivasi gue.
“Hmm,
okelah gue nyerah, gue bakal cerita semuanya ke elo.”
Toro
tersenyum, “Sip, gue siap denger semuanya.”
“Gue
emang banyak masalah di Solo, Tor. Gue gagal nikah. Pacar yang berhubungan sama
gue selama dua tahun ternyata udah punya
istri. Gara-gara itu papa gue syok, strokenya
mendadak kumat dan meninggal dunia. Gue merasa hidup gue hancur. Satu tahun
kemudian, adik gue dilamar dan menikah sama pacarnya. Perasaan gue semakin
sakit, Tor. Gue bukannya iri melihat adek gue menikah duluan. Gue ikhlas, tapi
elo tahu gue bener-bener kesepian saat adek gue nggak lagi serumah sama gue
karena harus ikut suaminya. Sejak itu, gue memutuskan untuk pergi dari Solo dan
berusaha melupakan semua kenangan pahit gue. Gue ninggalin bunda dan kerjaan
gue. Hmm… Tapi pada kenyataannya semua kenangan pahit itu tetap ikut bersama
gue.”
Toro
terdiam.
“Gue
nggak pernah yakin Tor, bahwa di dunia ini masih ada cowok baik-baik. Dalam
pikiran gue, semua cowok itu baj*ngan. Elo bisa bayangin kan betapa sakitya.
Orang yang elo sayangi dan jalan bersama elo selama dua tahun itu ternyata
adalah suami orang. Itu bener-bener mengerikan, Tor. Oh, what a pity me…”
Toro
menatap gue dengan sendu. Gue tertunduk lesu dan menahan mati-matian air mata
yang hampir terjatuh.
“Gue
ini bener-bener bego, Tor. Bisa-bisanya gue tunangan sama suami orang. Investasi
yang gue tanam sama baj*ngan itu selama bertahun-tahun juga ikut menghilang.
Gue kehilangan uang puluhan juta dengan baj*ngan itu. Dia nggak pernah meminta
maaf dan pergi begitu saja… Baj*ngan itu udah bikin hidup gue hancur. Gue
bener-bener merasa bersalah atas kepergian papa, Tor… Seandainya gue nggak
kenal baj*ngan itu, papa pasti masih ada di samping gue.”
Air
mata yang mati-matian gue tahan, lolos juga akhirnya. Begitu deras dan
membanjiri pipi gue. Gue membenamkan wajah gue di meja. Toro mengelus-elus
pundak gue.
“Nangis
aja Sha, kalau itu bisa bikin perasaan elo lega…”
Ya,
gue bener-bener jadi lega saat ini. Thanks
a lot, Toro…
To
be continued…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
kalo kamu suka sama isi blog aku...
di-comment yaaa...
=D